Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2008

Kuningan

”Kalo udah lulus kita cari kerjanya di daerah Kuningan (Jl. Kuningan Jakarta Selatan) aja.” Simon usul ke teman-teman. ”Biar kalo makan siang kita bisa janjian makan bareng. Terus pulang kantor masih bisa jalan bareng.” Sebagian teman-teman ada yang tidak menanggapi lantaran sibuk membayangkan suasana kalau kita sudah kerja terus masih bisa janjian, pasti seru, pikir mereka. Tapi cita-cita tinggallah cita-cita, bulan madu pun hanya mimpi (kayak lagu jaman dulu ya?). Rencana tersebut gak kesampaian. Simon yang punya usul sekarang kerja di daerah Kwitang (yah dekat sih dari Kuningan), TQ di Sudirman, saya di pinggiran Jakarta (daerah tempat saya kerja gak masuk peta Jakarta), Anka jauh di bumi Serambi Mekah, Herlan alias Bule malah di Taiwan. Gak tahu ada gak ya yang kerja di daerah situ? (Simon, kita butuh konfirmasinya nih, he…he…he…)

Rencana, pemikiran, ide seperti itu terlontar lantaran kita-kita pada waktu itu memang sulit dipisahkan satu sama lain. Nonton bareng, ngelayap bareng, tidur bareng (tapi cowok and ceweknya misah) semua sudah pernah kita lakukan. Sehingga keingginan untuk selalu bersama besar sekali, tapi sayang seribu kali sayang cita-cita tersebut kandas di tengah jalan. Lantaran nasib menentukan kita harus memilih jalan masing-masing.

Untuk mengobati rasa kangen akan kebersamaan itu selalu ada, anak-anak (angkatan 85-86) sering kumpul bareng pulang kantor, biasanya di daerah Sudirman-Thamrin. Dan bukan hanya mahasiswanya, pak Wiyanto Yong (dosen kita yang paling hebat itu) pernah hang out bareng sama kita-kita. Beliau bilang anak-anak memang gak ada duanya. Tak ada yang istimewa dari pertemuan itu hanya sekedar kongkow bercerita tentang masa lalu.

Memang sih kantor kita berjauhan, waktu kita habis terkuras untuk pekerjaan, keluarga dan lain-lain. Namun hati kita masih saling mengingat satu sama. Dan ternyata melalui weblog ini kita bisa merajut kembali jarak yang terpisah jauh antara Indonesia-Taiwan-USA (belom sampe nih beritanya). Dan juga jarak antarangkatan dari 1984 sampai 2000 an.

Read Full Post »

Marhaban Ya Ramadhan

Menyambut Bulan Suci Ramadhan kami, admin Weblog Ikadici UI mengucapkan

Selamat Menunaikan Ibadah Shaum, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Semoga Ibadah kita diganjar pahala yang berlimpah oleh Allah Swt.

Dan kita semua dapat meraih Kemenangan.

Amin

Read Full Post »

Angkatan 85

1. Herlan

2. Amir Fatah

3. Sutarwat

4. Oska

5. Enny (Bacem)

6. Rindang

7. Desi

8. Effy

9. Tri Santini Dewi

10. Endang (ada gak yang namanya Endang, he..he…he…)

11. Laurentius

Read Full Post »

Nyontek 2

Kalo tulisan Nyontek 1 mengenai diri saya pribadi, tapi pada artikel ini saya mau cerita tentang nyontek juga yang dilakukan pada waktu ujian akhir di tingkat akhir. Ceritanya hari itu kami semua sedah siap mengikuti ujian korespondesi (lagi-lagi kalo gak salah, soalnya gue pelupa banget). Dosennya (yang kita cintai bersama) Almarhumah Ibu Oey Soan Nio (kami sering memanggil beliau dengan Oma, karena beliau pada waktu mengajar kami usianya sudah sepuh sekali).

Seperti biasa ujian selalu tenang karena ada istilah tabu untuk nyontek bagi anak-anak sekelas. Di samping itu sang Dosen pun tidak pernah beranjak dari kursinya untuk mengawasi kami semua. Para mahasiswa dengan tenangnya mengerjakan soal ujian. Mungkin sang dosen berpikir bahwa anak-anak sudah sadar bahwa menyontek itu tidak baik. Maka beliau pun keluar ruangan. Begitu beliau keluar maka bagai tawon yang mendadak keluar dari sarangnya semua bertanya. “Gimana sih caranya nulis asrama?!” He…he…he… kosa kata asrama itu kami pelajari pada semester pertama nah sekarang semester enam dah pasti lupa la yao! Anehnya satu kelas tidak tahu cara menulis huruf tersebut. Terkecuali teman saya Mukti “Kamus” Anka Prima yang memang hobinya baca kamus. Pada waktu teman-teman baca novelnya Lupus (zaman kita karyanya Hilman mang lagi ngetop), nah Anka ini bacanya kamus aja. Sekarang di Aceh masih baca kamus gak tuh anak ya? (tolong kontakin dia dong, nomor hp-nya doi hilang seiring kujualnya hp-ku, penyakit jual barang koq masih dipelihara ya he…he…he…).

Memang sih akhirnya kita ingat setelah diberitahu ciri-ciri hurufnya. Memang ini adalah salah satu hal positif dari belajar bahasa China atau Mandarin. Meskipun kita mau nyontek tetapi kalau kita tidak pernah belajar niscaya tidak akan pernah tahu. Tetapi mau nyontek tapi dikasih tahu ujungnya aja pasti kita segera mengingatnya kembali. Sebab hurufnya benar-benar harus kita hafal, jadi kalau lupa-lupa sedikit para dosen pada umumnya masih maklum. Lha wong waktu saya sekolah di RRC aja dosennya lihat kamus koq lantaran dia jarang menulis huruf itu. Membuat kami semua tertawa, tapi memang sih ternyata orang China di sana pun belum tentu bisa baca semua huruf Hanzi. Jadi mereka pun masih butuh kamus untuk membaca koran dsb. (nitya)

Read Full Post »

Nyontek 1

Minggu-minggu awal sebagai mahasiswa merupakan suatu hal yang sangat sulit untuk saya pribadi (tau dech temen-temen ngerasa sulit gak?). Karena harus menyesuaikan gaya mengajar dosen yang kadang cepat gak ketulungan. Terus antara kuping harus seirama dengan kecepatan tangan kita menulis. Dan boleh dikatakan kebiasaan waktu di SMA masih terbawa, yang cuma mengandalkan CBSA (Catat Buku Sampai Habis bukannya Cara Belajar Siswa Aktif). Nah cara belajar kayak gitu yang masih aku terapkan pada minggu-minggu awal kuliah. Termasuk belajar kalau pas ada ulangan aja.
Waktunya (pasti) lupa, mata pelajaran Tata Bahasa, Dosennya Ibu Anita Luhay Amran (nama ini dah dikoreksi oleh Simon). Pada waktu itu beliau ngasih quiz (tes dadakan). Asli! Saya malamnya gak belajar sama sekali. Beliau cuma bilang keluarkan kertas selembar, dan tulis Hanzi yang saya sebutkan. Alamakjan… mampus gue! Batin saya. Ketika quiz berjalan mulailah mulailah saya menggerakkan kepala (dongchang xiwang istilah ini dipopulerkan oleh Dosen kita Bapak Wiyanto Yong, kalau melihat mahasiswanya tengak tengok waktu ujian). Tapi sedetik kemudian saya lebih terkejut lagi karena ternyata tidak ada satu pun teman-teman saya yang tolah-toleh alias dongchang xiwang. Mati gue! Berarti Cuma gue doang di kelas yang semalam gak belajar. Akhirnya saya menyerah kepada nasib, biarlah dapat berapa nilainya (semua terserah padamu aku begini adanya, kuhormati keputusanmu… ini persis kayak lagunya Broeri Pesolima).
Selesai ujian saya tanya teman-teman.
“Bisa gak?”
Jawaban mereka mengejutkan saya, “Gak! Semalam gue gak belajar.”
“Kenapa tadi gak…”
“Nyontek! Itu masa lalu Nit! Sekarang kita dah kuliah! Malu!”
Sumpah kata-kata itu keluar dari mulut teman saya! Dan semenjak itu saya bersumpah juga pada diri sendiri untuk mengubah pola belajar, dan gak mau nyontek. Malu sama teman-teman. Kita kan mencari pengetahuan bukan mencari nilai!
Semenjak itu saya setiap sekolah apa aja gak pernah mau nyontek dan itu pula yang saya terapkan pada para siswa saya untuk jangan pernah menyontek. (nitya)

Read Full Post »

Angkatan 86

1. Sinta Nopa

2. Sinta Catlleya

3. Sinta Monika

4. Dyah Sari Suteki

5. Sutoyo Wijaya

6. Mukti Anka Prima

7. Riska Chandradewi

8. Nitya Pramudita

9. Peppy (gue lupa nama lengkapnya)

10. Heru

11. Endoyoso

12. Urip

13. Sumardi

14. Uda Helmy

15. Kak Nazly Pardamean

16. Noenk

17. Firman

18. Yanti

19. Go Djie Heng

20. Djie Lie Fung

21. Yuli

22. Mas Suryadi

23. Dizka

24. Astupi

25. Winda Kriswanti

26. Gila masih kurang separuh lagi yang gue lupa! Help me friends…

 

Read Full Post »

August Special Days

Teman-teman pada bulan Agustus kami ingin mengucapkan selamat kepada kalian semua yang merayakan Hari Ulang tahun Sendiri, Suami, Istri, Anak, Hari Jadi Pernikahan, Hari Jadian kalian dengan cowok-cewek kalian, Hari Kelulusan, Naik Pangkat, Kelahiran Bayi dan lain sebagainya. Dan di bulan ini semoga teman-teman yang masih sendiri segera mendapat tambatan hati.

Semoga Kebahagiaan selalu menyertai kalian semua.

Amin

Read Full Post »

Dirgahayu Negeriku


Segenap Keluarga Besar Ikadici mengucapkan


Selamat Ulang Tahun ke 63 Republik Indonesia


Dirgahayu Negeriku. Jayalah Selalu!

Read Full Post »

Éwén

Éwén hanzi nya 俄文 artinya adalah Bahasa Rusia. Itu menurut Kamus Bahasa Tionghoa-Indonesia terbitan Beijing. Tapi menurut versi kami, mahasiswa D-III Bahasa China É wén yang hanzi nya 俄文, éwén itu artinya adalah Firman. Mengapa artinya bisa jadi Firman? Berikut ini kisahnya.

Huruf ‘e’ yang saya tulis pada huruf éwén seharusnya dibaca ‘e’ lemah seperti kita mengucapkan e pada kata emas. Bukannya e pada kata ember. Nah ada satu orang teman kami namanya Firman (nama lengkapnya saya lupa, mau tanya Ibu Pudji Rahayu Soegiri tidak mungkin karena Firman kayaknya  belum pernah belajar sama Ibu Pudji Rahayu Soegiri. Ibu dosen yang satu ini hafal nama semua mahasiswa jurusan China, termasuk alamat serta nama orang tuanya! Baik yang S-1 maupun D-III) yang gak bisa mengucapkan huruf ‘e’ tadi sesuai dengan cara mengucapkan dalam ejaan Pinyin (mudah-udahan teman-teman masih tahu apa yang disebut Pinyin). Jadi dia gak bisa menyebut e (e-mas) tetapi selalu e (e-mber).

Ibu Anita Amran Luhay (mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan nama, gelar) pernah nge-drill Firman sebanyak sepuluh kali berturut-turut kata éwén dan hanya satu kali berhasil dilakukan oleh Firman. Dan pada saat berhasil itu dia mendapat tepuk tangan dari teman-teman sekelas, bahkan standing ovation (itu lho tepuk tangan sampai berdiri untuk menyatakan penghormatan) tapi setelah itu dia gagal lagi.

Itulah asal muasal kata éwén yang hanzi nya 俄文 artinya sebenarnya adalah Bahasa Rusia, memiliki arti lain yaitu Firman. Dia adalah salah seorang teman yang inovatif selalu mencoba gagasannya sendiri, meskipun salah, tapi teorinya tentang kemungkinan selalu dia terapkan meskipun sedang belajar Bahasa Mandarin. Sosoknya yang ceria, serta logat Minangnya yang kental (ini pula yang membuat dia gak bisa ngomong éwén kali ya?)  membuat dia menjadi teman yang baik bagi kita semua.   Dan semenjak peristiwa itulah nama éwén lebih dikenal daripada nama aslinya Firman. Wén di mana dirimu? Lamo indak basuo. (nitya)

 

Read Full Post »

Bolos Berjamaah

Pernah bolos kan? Yang pernah sekolah, kuliah, atau kerja pasti kenal dengan istilah bolos. Pengertian bolos adalah suatu perbuatan mangkir, melarikan diri dari aktifitas sekolah, kuliah, kerja. Sehingga merugikan diri sendiri, mengecewakan orang tua kita yang telah membiayai kita sekolah sampai tinggi. Mengecewakan keluarga karena uang makan dan uang transport dipotong dari kantor. (Sumpah! Gue ngarang-ngarang pengertian ini, jadi jangan dicatat apalagi jadi semacam acuan untuk membuat  karya ilmiah).

Nah, anak-anak China 86 secara tidak sengaja pernah mangkir alias bolos alias madol secara berjamaah alias ramai-ramai. Padahal kita sehari sebelumnya sama sekali gak janjian untuk gak masuk kuliah, dan juga gak ada maksud kabur dari dosen tertentu. Waktu, mata kuliah serta tanggal kejadian saya lupa. Tapi dosen yang mengajar masih ingat banget, ibu Lily Sagita. Padahal dosen yang satu ini baik hati banget dan tidak sombong sampai sekarang. Betul kan bu? Apa kabar kak Lily? Long time no see. 很久不见 (sorry guys, gue manggil ibu yang satu ini jadi kakak, karena setelah keluar kuliah dosen kita ini sering jadi teman ngajar gue)

Hari itu ada team aerobtik Blue Angels dari Angkatan Lautnya Amerika melakukan aerobatik di Halim Perdanakusuma. Saya membelokkan arah tujuan dari semula ke Depok menjadi ke Halim. Sesampainya di sana saya melihat kemampuan team aerobatik yang memang spektakuler. Berbagai manuver mereka sajikan sehingga membuat kagum crowd di sana. Dengan hati puas saya pulang dari Halim pas banget dengan waktunya orang-orang pulang kuliah.

Keesokkan harinya, di kampus saya mau menyombongkan diri kalau kemarin lihat team aerobatik, eh ternyata wajah teman-teman pada tegang semua. Usut punya usut ternyata kemarin yang datang kuliah cuma tiga orang, dari tiga puluhan orang mahasiswa (mohon maaf apabila terdapat kesalahan penulisan jumlah mahasiswa, gue kan pelupa). “bu Lily marah!” Kata salah satu dari temanku yang masuk. Alamakjan…koq bisa ya kita pada gak masuk di saat yang bersamaan, tanpa janjian pula! Sampai sekarang misteri itu tidak terungkap ke mana aja teman-teman yang lain pada saat itu, karena gak ada yang berani mengungkap misteri itu. Baru sekarang saja saya mau ngaku, karena pada waktu itu alasan apa pun tidak akan didengar oleh dosen kita, bolos ya bolos, katanya.

Padahal peristiwa bolos tadi bukan yang pertama bagi saya. Ketika kampus masih di Rawamangun kita-kita (saya, Firman yang juga M.A. alias Minang Asli, yang biasa kami panggil si Ewen, Noenk anak Depok yang jadi soulmate-nya Uda Helmy karena tinggalnya di sana juga dan beberapa orang teman yang identitasnya minta disamarkan, takut menjadi image buruk bagi anak-anaknya, kata mereka) malah sering bolos. Pada saat itu kami sering bolos satu mata kuliah dan lari nonton film di daerah pertokoan Sunan Giri Rawamangun. Di situ ada satu bioskop entah sekarang masih ada atau tidak? Nah di bioskop itulah kita-kita sering bolos atau nunggu mata kuliah mulai karena ada mata kuliah yang bolong di tengah. Tapi belum pernah ada kejadian bolos berjamaah kayak peristiwa yang baru saya sampaikan di atas. Anak-anak  China 86 mang gak ada duanya, Kompak sampai hal bolos, he…he…he… (nitya)    

Read Full Post »

Older Posts »