Feeds:
Posts
Comments

Archive for August 15th, 2008

Nasi Goreng

Semua orang pasti pernah makan nasi goreng. Masakan yang dulu adanya cuma pagi hari kini dapat dijumpai di kota Jakarta (terutama kampung gue yang sekarang, Kemayoran), hingga larut malam. Berbagai macam isian bisa dicampur pada pembuatan nasi goreng. Dari mulai, telur ayam, daging, hingga sayuran sebagai pelengkapnya.

Tapi yang mau saya bahas adalah Nasi Goreng TQ. Nasi Goreng TQ ini susah didapat, keluar cuma pada ivent-ivent tertentu aja, seperti inisiasi mahasiswa baru! Nasi Goreng TQ gak bisa dicari di restoran mana pun juga. Nah TQ itu sebetulnya nama sahabat saya yang baik banget dan dia jago banget masak nasi goreng. Makanya nama nasi gorengnya kita namain pake TQ, enak gak enak para mahasiswa baru pasti bilang enak. Itulah kelebihan nasgor tsb. Dan setiap anak-anak China ada acara keluar doi pasti jadi kokinya dan masakan istimewanya ya nasi goreng tadi.

Saking enaknya tuh nasi goreng sampai-sampai pernah suaminya Jie Inggrid (eh iya dimana ya Jie Inggrid sekarang? Ada yang tahu gak?) sampai gak kebagian sarapan padahal kita udah nawarin dia lho (emang kita-kita crazy bgt ma nasi goreng TQ). Nama lengkap dia selalu dipanggil Dyah Sari Suteki  oleh Ibu Poedji Rahayu Soegiri (maaf apabila ada kesalahan pada penulisan nama, gelar). Emang itu namanya. Cewek satu ini selama gue kenal baru sekali pakai rok, yaitu waktu Praktek Kerja di Kejaksaan Agung RI. Makanya kita sering godain dia. Sekarang seringnya pake rok kali ya Q?

Eh iya, karena dia juga saya terinspirasi untuk belajar bikin nasi goreng, sehingga ilmu masak nasi goreng itu bisa saya terapkan pada saat saya ngajar siswa bahasa Mandarin di kantor. Sebab dulu saya sama Ayo sering disuruh bantuin dia, terutama bantuin ngicipin.

Q, kapan kita bikin Nasi Goreng TQ lagi nih? Gue tunggu. (nitya)

Read Full Post »

Gudeg Pakde Gon

Semua orang pasti mengenal gudeg. Makanan asli dari Ngayogyokarto Hadiningrat. Sehingga tidak heran, selain disebut kota Pelajar kota Yogya juga sering disebut kota Gudeg. Berbagai macam gudeg sering dijual dengan membawa nama pembuatnya seperti Gudeg Bu Citro yang kondang itu. Nah saya akan bercerita tentang Gudeg Pakde Gon. Gudeg Pakde Gon hanya ada di daerah Citeureup Jawa Barat. Tepatnya di depan pasar yang tidak jauh dari perempatan Citeureup. Gudegnya mak nyusss! Sayang aja pak Bondang belum pernah berkunjung ke sana, karena tempatnya agak nyempil! Pindah tempat dong Pakde, ke Pondok Indah! (he…he…he…)

Gudeg Pakde Gon ini saya angkat bukan saja karena garang asemnya yang uenak, es jahenya yang legit (menurut Pakde Gon ini hasil racikannya sendiri setelah nemu wangsit di Gunung Sahari, Jakarta karena kesasar mau ke rumah gue!) serta tempe bacemnya yang top markotop (pinjam bahasanya Pak Bondan lagi). Cerita tentang gudeg Pakde Gon ini semata-mata karena Pakde Gon adalah sahabat kami. Nama sebenarnya Amir Fatah. (Heru86 bilang sih masih saudaraan sama Donny Fatah, Tau tuh Heru nemu silsilah si Amir dari mana?) Dia mahasiswa China angkatan 85. (mohon maaf bila terdapat kesalahan penulisan nama, gelar atau pun tahun angkatan).

Nama Pakde ini diambil karena dia satu-satunya pedagang yang paling tua di lingkungan pasar tersebut (he…he…he… ini gue ngarang beneran). Sedangkan Gon adalah kependekan dari Gondrong. Emang sejak kita masuk kuliah Amir (biasa temen-temen panggil Aming, jadi dia lebih dulu ngetop daripada Aming Extravaganza. Di lingkungan kita tentunya) udah gondrong habis. Gondrongnya kayak Kenny G. Bah, keren habis deh boss! Jadilah selain Amir, Aming dia juga kita panggil Gondrong

Aku, TQ, Ayo (86) sama Sonny Gede87 (mohon maaf bila terdapat kesalahan penulisan nama, gelar ataupun tahun angkatan) pernah berkunjung untuk bersilturahmi ke Restoran Gudeg Pakde Gon, sebetulnya lebih tepat dikatakan minta makan sih. But anyway, busway. Gudegnya bener-bener uenak. TQ aja sampe kebawa-bawa mimpi. Nah buat kalian yang tinggal di sekitar Cibubur, gak ada salahnya deh kenalan sama Pakde Gon siapa tahu aja disuruh nyobain gudegnya juga, tapi jangan lupa setelah makan tinggalkanlah uang beberapa ribu rupiah sebagai ganti makanan yang kalian makan. Pasti Pakde Gon akan menerima kalian dengan tangan terbuka dan senang hati, betulkan Pakde? Kapan nih ngundang kita lagi ke restoran Pakde? Kita tunggu ya. (nitya)

Read Full Post »

Tidak ada satu pun dari kami akan mendapat kejutan mendadak dari dosen mata kuliah Pancasila. Hari itu hari pertama mata kuliah Pancasila, biasalah anak-anak yang baru saja melepas seragam Corps Abu-Abu SMA nya agak sedikit “belajar” kritis. Sehingga terkesan di dalam kelas kami seolah belajar menjadi orator ulung yang mengkritik pemerintah.

Tapi sang dosen (maaf bu, saya lupa nama ibu) MKDU dengan sabar mengajar kami dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Diakhir kuliah tiba-tiba sang dosen memerintahkan kami untuk mengeluarkan selembar kertas. Setelah semua mahasiswa dan mahasiswi juga tentunya siap, ibu dosen hanya memerintahkan satu hal. “Tolong tuliskan Pancasila beserta lambangnya!”

Sebagian dari kami cuma bisa nyengir, karena memang banar-benar gak tahu! Lucu juga rasanya kita melupakan Pancasila padahal, dulu setiap jam 19.30 selalu ada lagu Garuda Pancasila di TVRI (maklum djaman doeloe stasiun TV nya cuma itu doang). Koq bisa ya? Apalagi sekarang lagu tersebut sudah jarang kita dengar di stasiun TV mana pun. Apa anak-anak sekarang hafal ya? Setelah peristiwa memalukan tersebut, teman-teman langsung menghapal Pancasila beserta lambangnya. Tapi tes seperti itu tidak ada lagi sampai mata kuliah selesai. (nitya)

Read Full Post »

Dosenku…

Sore itu, bus kota jurusan Rawamangun – Blok M agak kosong, beberapa mahasiswa dari kalangan proletar dan beberapa dosen muda yang pada waktu itu belum bawa mobil sendiri langsung melompat naik ke dalam bus kota tersebut. Diantara mahasiswa itu ada mahasiswa baru (aku dan kawan-kawan memanggil dia Uda Helmy, karena memang dia M.A. alias Minang Asli, tapi bahasa Jawanya medok banget maklumlah abang kita yang satu ini lama pula bercokol di Yogya). Di dalam bus mulailah uda kita ini menyebarkan pandangan ke seluruh bus. Matanya menangkap sosok cantik, tengah duduk dengan tenang di dalam bus. Uda Helmy dengan yakin mendekatinya dan memulai rayuan mautnya. “Anak UI ya dik?” sapanya membuka percakapan. “Iya,” jawab cewek itu singkat. “Saya juga anak UI,” Uda mulai menyombongkan diri juga, dan dia memulai menjalin percakapan.

Hari Senin (kalo aku gak salah) adalah pelajaran pertama untuk kami sebagai mahasiswa baru, pelajaran hari itu Penulisan Hanzi. Sebagian besar dari kami antusias mengetahui pelajaran pertama ini. Dan ternyata kami pun mengetahui bahwa yang mengajar kami penulisan adalah Ibu Assah Kabul (mohon maaf apabila terdapat kesalahan penulisan nama dan gelar), dosen yang satu ini sangat cantik. Dan kami para mahasiswa menjadi semakin antusias, tapi mahasiswinya tidak karena merasa kalah saingan.

Aku memperhatikan suasana di dalam kelas semua sangat semangat, mempelajari Hanzi. Tetapi hanya satu mahasiswa yang gelisah sejak tadi, yaitu Uda Helmy. Begitu pelajaran usai aku bertanya, “Ada apa Da? Kelihatannya nggak semangat belajar?” “Mati aku Nit! Cewek yang aku goda kemarin di bus itu ternyata Ibu Assah, dosen kita.” Gerrr…. teman-teman tertawa mendengar ceritanya. Ibu Assah memang terlihat cute bgt pada waktu itu, sekarang juga masih kali ya? Pantas Uda kita yang satu ini tidak tenang selama pelajaran. Bahkan Ibu Assah sempat mengenalinya waktu di dalam kelas. Uda Helmy where are you Da? (nitya) http://nityapramudita.wordpress.com

Read Full Post »