Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2008

Dirgahayu Negeriku


Segenap Keluarga Besar Ikadici mengucapkan


Selamat Ulang Tahun ke 63 Republik Indonesia


Dirgahayu Negeriku. Jayalah Selalu!

Advertisements

Read Full Post »

Éwén

Éwén hanzi nya 俄文 artinya adalah Bahasa Rusia. Itu menurut Kamus Bahasa Tionghoa-Indonesia terbitan Beijing. Tapi menurut versi kami, mahasiswa D-III Bahasa China É wén yang hanzi nya 俄文, éwén itu artinya adalah Firman. Mengapa artinya bisa jadi Firman? Berikut ini kisahnya.

Huruf ‘e’ yang saya tulis pada huruf éwén seharusnya dibaca ‘e’ lemah seperti kita mengucapkan e pada kata emas. Bukannya e pada kata ember. Nah ada satu orang teman kami namanya Firman (nama lengkapnya saya lupa, mau tanya Ibu Pudji Rahayu Soegiri tidak mungkin karena Firman kayaknya  belum pernah belajar sama Ibu Pudji Rahayu Soegiri. Ibu dosen yang satu ini hafal nama semua mahasiswa jurusan China, termasuk alamat serta nama orang tuanya! Baik yang S-1 maupun D-III) yang gak bisa mengucapkan huruf ‘e’ tadi sesuai dengan cara mengucapkan dalam ejaan Pinyin (mudah-udahan teman-teman masih tahu apa yang disebut Pinyin). Jadi dia gak bisa menyebut e (e-mas) tetapi selalu e (e-mber).

Ibu Anita Amran Luhay (mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan nama, gelar) pernah nge-drill Firman sebanyak sepuluh kali berturut-turut kata éwén dan hanya satu kali berhasil dilakukan oleh Firman. Dan pada saat berhasil itu dia mendapat tepuk tangan dari teman-teman sekelas, bahkan standing ovation (itu lho tepuk tangan sampai berdiri untuk menyatakan penghormatan) tapi setelah itu dia gagal lagi.

Itulah asal muasal kata éwén yang hanzi nya 俄文 artinya sebenarnya adalah Bahasa Rusia, memiliki arti lain yaitu Firman. Dia adalah salah seorang teman yang inovatif selalu mencoba gagasannya sendiri, meskipun salah, tapi teorinya tentang kemungkinan selalu dia terapkan meskipun sedang belajar Bahasa Mandarin. Sosoknya yang ceria, serta logat Minangnya yang kental (ini pula yang membuat dia gak bisa ngomong éwén kali ya?)  membuat dia menjadi teman yang baik bagi kita semua.   Dan semenjak peristiwa itulah nama éwén lebih dikenal daripada nama aslinya Firman. Wén di mana dirimu? Lamo indak basuo. (nitya)

 

Read Full Post »

Bolos Berjamaah

Pernah bolos kan? Yang pernah sekolah, kuliah, atau kerja pasti kenal dengan istilah bolos. Pengertian bolos adalah suatu perbuatan mangkir, melarikan diri dari aktifitas sekolah, kuliah, kerja. Sehingga merugikan diri sendiri, mengecewakan orang tua kita yang telah membiayai kita sekolah sampai tinggi. Mengecewakan keluarga karena uang makan dan uang transport dipotong dari kantor. (Sumpah! Gue ngarang-ngarang pengertian ini, jadi jangan dicatat apalagi jadi semacam acuan untuk membuat  karya ilmiah).

Nah, anak-anak China 86 secara tidak sengaja pernah mangkir alias bolos alias madol secara berjamaah alias ramai-ramai. Padahal kita sehari sebelumnya sama sekali gak janjian untuk gak masuk kuliah, dan juga gak ada maksud kabur dari dosen tertentu. Waktu, mata kuliah serta tanggal kejadian saya lupa. Tapi dosen yang mengajar masih ingat banget, ibu Lily Sagita. Padahal dosen yang satu ini baik hati banget dan tidak sombong sampai sekarang. Betul kan bu? Apa kabar kak Lily? Long time no see. 很久不见 (sorry guys, gue manggil ibu yang satu ini jadi kakak, karena setelah keluar kuliah dosen kita ini sering jadi teman ngajar gue)

Hari itu ada team aerobtik Blue Angels dari Angkatan Lautnya Amerika melakukan aerobatik di Halim Perdanakusuma. Saya membelokkan arah tujuan dari semula ke Depok menjadi ke Halim. Sesampainya di sana saya melihat kemampuan team aerobatik yang memang spektakuler. Berbagai manuver mereka sajikan sehingga membuat kagum crowd di sana. Dengan hati puas saya pulang dari Halim pas banget dengan waktunya orang-orang pulang kuliah.

Keesokkan harinya, di kampus saya mau menyombongkan diri kalau kemarin lihat team aerobatik, eh ternyata wajah teman-teman pada tegang semua. Usut punya usut ternyata kemarin yang datang kuliah cuma tiga orang, dari tiga puluhan orang mahasiswa (mohon maaf apabila terdapat kesalahan penulisan jumlah mahasiswa, gue kan pelupa). “bu Lily marah!” Kata salah satu dari temanku yang masuk. Alamakjan…koq bisa ya kita pada gak masuk di saat yang bersamaan, tanpa janjian pula! Sampai sekarang misteri itu tidak terungkap ke mana aja teman-teman yang lain pada saat itu, karena gak ada yang berani mengungkap misteri itu. Baru sekarang saja saya mau ngaku, karena pada waktu itu alasan apa pun tidak akan didengar oleh dosen kita, bolos ya bolos, katanya.

Padahal peristiwa bolos tadi bukan yang pertama bagi saya. Ketika kampus masih di Rawamangun kita-kita (saya, Firman yang juga M.A. alias Minang Asli, yang biasa kami panggil si Ewen, Noenk anak Depok yang jadi soulmate-nya Uda Helmy karena tinggalnya di sana juga dan beberapa orang teman yang identitasnya minta disamarkan, takut menjadi image buruk bagi anak-anaknya, kata mereka) malah sering bolos. Pada saat itu kami sering bolos satu mata kuliah dan lari nonton film di daerah pertokoan Sunan Giri Rawamangun. Di situ ada satu bioskop entah sekarang masih ada atau tidak? Nah di bioskop itulah kita-kita sering bolos atau nunggu mata kuliah mulai karena ada mata kuliah yang bolong di tengah. Tapi belum pernah ada kejadian bolos berjamaah kayak peristiwa yang baru saya sampaikan di atas. Anak-anak  China 86 mang gak ada duanya, Kompak sampai hal bolos, he…he…he… (nitya)    

Read Full Post »

Sate Pak Tohir

Kalau kita berjalan dari arah Pasar Minggu menuju Pancoran, Jakarta Selatan. Setelah Carrefour, di sekitar kompleks Garuda ada Masjid, nah di depan Masjid itu ada tukang sate, namanya Pak Tohir. Jadi nama warungnya ya Sate Pak Tohir. Yang istimewa dari sate pak Tohir ini adalah telur muda yang ada pada setiap tusukan sate ayamnya. Pokoke Pak Tohir gak ada duanya deh.  Eit, tunggu dulu! Pak Tohir ini beda dengan Warung Gudeg Pakde Gon di Cileungsi atau pun Nasi Goreng TQ. Kalau Pakde Gon alias Amir alias Aming alias Gondrong (saking gondrongnya dia pernah disangka tukang kerupuk oleh almarhum bokap gue) dan TQ alias Dyah Sari Suteki, mereka adalah anak-anak Diploma III China. Maka Pak Tohir ini sama sekali bukan teman kita (sumpah! Boleh tanya Simon, dedengkotnya Ikadici yang hafal nama anak-anak dari angkatan pertama sampai yang masih kuliah).

Terus apa hebatnya Pak Tohir ini sampai bisa masuk weblognya Ikadici? Apalagi dia gak ada hubungan sama sekali dengan Ikadici. Memang dengan Ikadici sih gak ada cuma dia itu ada jasanya juga untuk kita-kita (Saya, Simon, Heru, Anka, Herlan, Yossi). Setidaknya banyak sudah potongan satenya yang naknan (uenak tenan) itu masuk ke perut kita. Hal ini terjadi karena kita-kita (tadi dah disebut siapa aja) sering banget tidur di rumah Yossi yang selalu dipanggil secara lengkap oleh Ibu Poedji Rahayu Soegiri yang dulu rumahnya di belakang STAN, dengan panggilan Endoyoso. Nah Yossi inilah yang sering beliin kita-kita sate Pak Tohir untuk makan malam dan makan pagi (kalo masih ada sisa malam tentunya,dan cuma Anka yang paling doyan sarapan pake sate, ditemani saya Simon, Heru, Herlan, dan Yossi). Dasar mahasiswa!

 

Nah siangnya kita-kita kuliah berangkat bareng pakai mobil landrover Yossi. Lagi-lagi nunut. Tapi hal ini kita lakukan setelah kampus kita digusur ke Depok. Sebelumnya kampus kita kan di Rawamangun, bersebelahan dengan IKIP Jakarta (sekarang UNJ). Waktu di Rawamangun kita pada naik buskota dengan harapan banyak kenalan sama cewek manis. Kayak Uda Helmy yang godain cewek tapi ternyata malah dosen sendiri.

 

Sampai sekarang Warung Sate Pak Tohir masih berdiri, tapi Yossi belum pernah lagi ngundang kita-kita makan di sate Tohir (dasar mental kere! Maunya ditraktir, he..he..he..). Mudah-mudahan Yossi setelah membaca tulisan ini tergerak hatinya dan langsung mengajak para Kurawa ini makan di Warung Sate Pak Tohir lagi. Karena dia itu teman yang dermawan. Untuk teman-teman yang mau merasakan kelezatan Sate Pak Tohir tolong paksa Yossi untuk membaca tulisan di weblog ini. Dan jangan lupa bersama-sama kita bujuk dia untuk traktir kita makan sate di sana. Yossi “Endhuk” Endoyoso, where a u my man?  (nitya ”yup-yup” pramudita)   

Catatan : nama, tempat, waktu dan peristiwa telah kami samarkan untuk melindungi jati diri pelaku sebenarnya agar dia tidak malu untuk mengundang kita makan sate. 

Read Full Post »

Nasi Goreng

Semua orang pasti pernah makan nasi goreng. Masakan yang dulu adanya cuma pagi hari kini dapat dijumpai di kota Jakarta (terutama kampung gue yang sekarang, Kemayoran), hingga larut malam. Berbagai macam isian bisa dicampur pada pembuatan nasi goreng. Dari mulai, telur ayam, daging, hingga sayuran sebagai pelengkapnya.

Tapi yang mau saya bahas adalah Nasi Goreng TQ. Nasi Goreng TQ ini susah didapat, keluar cuma pada ivent-ivent tertentu aja, seperti inisiasi mahasiswa baru! Nasi Goreng TQ gak bisa dicari di restoran mana pun juga. Nah TQ itu sebetulnya nama sahabat saya yang baik banget dan dia jago banget masak nasi goreng. Makanya nama nasi gorengnya kita namain pake TQ, enak gak enak para mahasiswa baru pasti bilang enak. Itulah kelebihan nasgor tsb. Dan setiap anak-anak China ada acara keluar doi pasti jadi kokinya dan masakan istimewanya ya nasi goreng tadi.

Saking enaknya tuh nasi goreng sampai-sampai pernah suaminya Jie Inggrid (eh iya dimana ya Jie Inggrid sekarang? Ada yang tahu gak?) sampai gak kebagian sarapan padahal kita udah nawarin dia lho (emang kita-kita crazy bgt ma nasi goreng TQ). Nama lengkap dia selalu dipanggil Dyah Sari Suteki  oleh Ibu Poedji Rahayu Soegiri (maaf apabila ada kesalahan pada penulisan nama, gelar). Emang itu namanya. Cewek satu ini selama gue kenal baru sekali pakai rok, yaitu waktu Praktek Kerja di Kejaksaan Agung RI. Makanya kita sering godain dia. Sekarang seringnya pake rok kali ya Q?

Eh iya, karena dia juga saya terinspirasi untuk belajar bikin nasi goreng, sehingga ilmu masak nasi goreng itu bisa saya terapkan pada saat saya ngajar siswa bahasa Mandarin di kantor. Sebab dulu saya sama Ayo sering disuruh bantuin dia, terutama bantuin ngicipin.

Q, kapan kita bikin Nasi Goreng TQ lagi nih? Gue tunggu. (nitya)

Read Full Post »

Gudeg Pakde Gon

Semua orang pasti mengenal gudeg. Makanan asli dari Ngayogyokarto Hadiningrat. Sehingga tidak heran, selain disebut kota Pelajar kota Yogya juga sering disebut kota Gudeg. Berbagai macam gudeg sering dijual dengan membawa nama pembuatnya seperti Gudeg Bu Citro yang kondang itu. Nah saya akan bercerita tentang Gudeg Pakde Gon. Gudeg Pakde Gon hanya ada di daerah Citeureup Jawa Barat. Tepatnya di depan pasar yang tidak jauh dari perempatan Citeureup. Gudegnya mak nyusss! Sayang aja pak Bondang belum pernah berkunjung ke sana, karena tempatnya agak nyempil! Pindah tempat dong Pakde, ke Pondok Indah! (he…he…he…)

Gudeg Pakde Gon ini saya angkat bukan saja karena garang asemnya yang uenak, es jahenya yang legit (menurut Pakde Gon ini hasil racikannya sendiri setelah nemu wangsit di Gunung Sahari, Jakarta karena kesasar mau ke rumah gue!) serta tempe bacemnya yang top markotop (pinjam bahasanya Pak Bondan lagi). Cerita tentang gudeg Pakde Gon ini semata-mata karena Pakde Gon adalah sahabat kami. Nama sebenarnya Amir Fatah. (Heru86 bilang sih masih saudaraan sama Donny Fatah, Tau tuh Heru nemu silsilah si Amir dari mana?) Dia mahasiswa China angkatan 85. (mohon maaf bila terdapat kesalahan penulisan nama, gelar atau pun tahun angkatan).

Nama Pakde ini diambil karena dia satu-satunya pedagang yang paling tua di lingkungan pasar tersebut (he…he…he… ini gue ngarang beneran). Sedangkan Gon adalah kependekan dari Gondrong. Emang sejak kita masuk kuliah Amir (biasa temen-temen panggil Aming, jadi dia lebih dulu ngetop daripada Aming Extravaganza. Di lingkungan kita tentunya) udah gondrong habis. Gondrongnya kayak Kenny G. Bah, keren habis deh boss! Jadilah selain Amir, Aming dia juga kita panggil Gondrong

Aku, TQ, Ayo (86) sama Sonny Gede87 (mohon maaf bila terdapat kesalahan penulisan nama, gelar ataupun tahun angkatan) pernah berkunjung untuk bersilturahmi ke Restoran Gudeg Pakde Gon, sebetulnya lebih tepat dikatakan minta makan sih. But anyway, busway. Gudegnya bener-bener uenak. TQ aja sampe kebawa-bawa mimpi. Nah buat kalian yang tinggal di sekitar Cibubur, gak ada salahnya deh kenalan sama Pakde Gon siapa tahu aja disuruh nyobain gudegnya juga, tapi jangan lupa setelah makan tinggalkanlah uang beberapa ribu rupiah sebagai ganti makanan yang kalian makan. Pasti Pakde Gon akan menerima kalian dengan tangan terbuka dan senang hati, betulkan Pakde? Kapan nih ngundang kita lagi ke restoran Pakde? Kita tunggu ya. (nitya)

Read Full Post »

Tidak ada satu pun dari kami akan mendapat kejutan mendadak dari dosen mata kuliah Pancasila. Hari itu hari pertama mata kuliah Pancasila, biasalah anak-anak yang baru saja melepas seragam Corps Abu-Abu SMA nya agak sedikit “belajar” kritis. Sehingga terkesan di dalam kelas kami seolah belajar menjadi orator ulung yang mengkritik pemerintah.

Tapi sang dosen (maaf bu, saya lupa nama ibu) MKDU dengan sabar mengajar kami dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Diakhir kuliah tiba-tiba sang dosen memerintahkan kami untuk mengeluarkan selembar kertas. Setelah semua mahasiswa dan mahasiswi juga tentunya siap, ibu dosen hanya memerintahkan satu hal. “Tolong tuliskan Pancasila beserta lambangnya!”

Sebagian dari kami cuma bisa nyengir, karena memang banar-benar gak tahu! Lucu juga rasanya kita melupakan Pancasila padahal, dulu setiap jam 19.30 selalu ada lagu Garuda Pancasila di TVRI (maklum djaman doeloe stasiun TV nya cuma itu doang). Koq bisa ya? Apalagi sekarang lagu tersebut sudah jarang kita dengar di stasiun TV mana pun. Apa anak-anak sekarang hafal ya? Setelah peristiwa memalukan tersebut, teman-teman langsung menghapal Pancasila beserta lambangnya. Tapi tes seperti itu tidak ada lagi sampai mata kuliah selesai. (nitya)

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »