Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2008

Puasa di Kampung Orang

Bulan Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nantikan oleh jutaan umat muslim di seluruh dunia. Bila Ramadhan datang maka suasana bulan tersebut menjadi sangat teduh di hati. Demikian juga yang pernah saya rasakan ketika saya harus berpuasa di negeri orang, China pada tahun 1999 lalu. Beberapa hari sebelum Ramadhan saya mengajak teman-teman saya dari Bangladesh, Tajikistan, Kirgizstan untuk mengunjungi sebuah masjid (kalau di sini mungkin dibilang Musholla karena kecil) di kota tempat saya belajar Luoyang Propinsi Henan, guna mencari informasi tanggal 1 Ramadhan serta meminta jadwal waktu imsak, berbuka puasa setiap harinya. Kebetulan Ramadhan pada tahun itu jatuh pada bulan Desember dan merupakan musim dingin. Alhamdullillah, kami diterima oleh Ahong masjid dan mereka menyambut kami dengan baik, setelah sholat kami pun kembali ke kampus.
Sesampainya di kampus kami menghadap Kepala Sekolah dan menjelaskan tentang rencana ibadah kami di bulan Ramadhan. Ternyata Kepala Sekolah tidak keberatan dengan rencana kami tersebut dan akan membantu kami untuk menyiapkan makan sahur (padahal kami sudah menolak agar jangan merepotkan pihak kampus ternyata mereka tetap akan menyiapkan, hiks hati kami terenyuh juga padahal mereka kan komunis ya?). Dan begitu memulai Ramadhan kami pun mulai sahur. Inilah yang terberat. Bagaimana tidak berat, kami harus bangun pagi-pagi sekali menahan udara dingin (terkadang mencapai -10˚ C) untuk pergi ke ruang makan diluar asrama (memang sih asrama dan ruang makan hanya berjarak sekitar 10 m, tapi udara dingin itulah yang sangat berat untuk kami. Ritual memakai lima lapis baju plus jaket menjadi hal yang merepotkan daripada sahurnya itu sendiri. Dan kebetulan hanya enam orang muslim yang berpuasa (sebetulnya ada beberapa muslim dari negara lain tapi mereka menganggap bahwa puasa itu tidak wajib) dan setiap pagi sudah sampai di ruang makan ditemani koki yang kembali tertidur di meja makan. Kalau melihat jam maka terlihat pukul 05.00 waktu setempat tapi langit masih sangat gelap. Karenanya imsak di sana pukul 05.45 (hampir jam enam pagi). Subuh pukul 06.00 pagi.
Hal terberat lainnya adalah menahan kantuk di dalam kelas, saya sering ketahuan teman-teman tengah menahan kantuk sehingga saya punya trik untuk tidak tertidur di kelas yaitu bertanya ke dosen. Jadi setiap saya bertanya pada dosen, teman-teman pasti tertawa karena mereka tahu pada saat itulah saya sebetulnya sedang mengantuk dan mengalihkannya dengan bertanya. Bagi teman-teman dari negara lain banyak yang bertanya mengenai masalah puasa ini, saya pun menjelaskan kepada mereka tentang ajaran agama Islam yang mewajibkan umatnya untuk berpuasa. Bahkan Maurius teman saya dari Polandia merasa kehilangan teman setiap makan siang karenanya dia pun ingin ikutan berpuasa. Karena kami yang biasa makan siang semeja dengannya semua melaksanakan ibadah puasa.
Hal yang menyenangkan adalah saat berbuka puasa. Pada saat musim dingin berpuasa di China sangat menyenangkan karena siang di sana berlangsung sangat singkat, pukul 16.00 kami sudah berbuka puasa. Kabarnya pada saat musim panas justru sangat lama (Herlan pernah tuh puasa di Beijing saat musim panas) buka puasa bisa sampai jam 20.00 lewat.
Sampailah saatnya Idul Fitri. Malamnya saya mohon ke Kepala Sekolah agar kami dipinjami kendaraan untuk bisa pergi ke Masjid agar bisa melaksanakan sholat Ied. Pagi itu adalah udara terdingin yang pernah saya rasakan (suhu saat itu mencapai -36˚C). Kami tidak kuat berlama-lama di udara terbuka, seluruh badan terasa teriris-iris (karena dinginnya). Sesampainya di masjid kami mulai curiga mengapa masjid koq tampak sepi sekali. Kami masuk ke dalam dan disambut Ahong (pemuka) masjid dan kami menanyakan tentang sholat Ied, dia dengan enteng menjawab bahwa hari ini hari Sabtu banyak orang yang bekerja jadi sholatnya besok saja pada hari minggu (alamak! Koq bisa sholat Ied digeser hanya lantaran sebagian umatnya tidak libur). Kami kecewa tapi akhirnya kami diajak keliling masjid dan mendapat penjelasan tentang situasi masjid tersebut sambil diperlihatkan Al Quran dengan terjemahan huruf China. Akhirnya kami pun kembali ke asrama.
Sesampainya di asrama Amir, Harun, Radzaq (teman-teman saya dari Bangladesh) mengundang kami ke ruangannya untuk menikmati hidangan a la Bangladesh buatan istri-istri mereka. Dan saya baru pertama kali makan masakan termanis di dunia yang pernah saya rasakan (sampai mual rasanya).
Tidak hanya di China di Indonesia pun suasana Ramadhan selalu kita rindukan. (nitya)

Read Full Post »

Bintang dari Menteng

Bagi anak-anak tahun 85, 86, 87, 88 tidak ada yang tidak mengenal kak Dame. Kakak cantik yang satu ini berasal dari Medan. Nama lengkapnya Nazly Pardamean. Hampir sesuai namanya kakak yang satu ini sangat cinta damai dan selalu menghindari konflik, baik konflik horinzontal maupun vertikal (maksudnya sesama mahasiswa maupun terhadap dosen). Kak Dame lah yang selalu menjadi mediator sesama kami kalau timbul masalah dan dia pulalah yang maju kalau kami bermasalah dengan para Dosen. Meskipun dia salah satu yang senior (selain mbak Rida –yang selalu tampil cantik and modis– ada juga jie Inggrid –yang selalu menjadi penyandang dana kalau kami jalan– ada juga mas Suryadi) kak Dame selalu tampil menyesuaikan diri dengan kami semua, padahal waktu itu dia sudah dikaruniai satu orang anak.
Kak Dame selalu tampil di tengah kami kalau kami ada masalah meskipun terkadang dia pun bingung mengatasi masalah kami. Maklumlah urusan kita kan remeh temeh. Kalau sudah sampai pelajaran bu Poedji dia paling sibuk mempersiapkan pelajaran agar jangan sampai dimarahi tapi sementara kami senang mendengar omelan bu Poedji (itung-itung bentuk pelatihan dimarahi boss kalau kerja nanti), itulah bedanya kalau anak muda kuliah sama orang tua (yang berjiwa muda) kuliah.
Pada bulan Ramadhan seperti sekarang ini saya selalu ingat kak Dame karena dia selalu mengundang kami untuk buka puasa bersama di rumahnya yang besar di bilangan Menteng Jakarta Pusat. Selesai buka puasa dilanjutkan dengan sholat berjamaah (duh, kangen euy sama suasana buka puasa bareng kalian guys). Seingat saya selain di Menteng, kak Dame juga pernah mengundang kami berbuka puasa di rumahnya di bilangan Tebet. Kami masih menunggu konfirmasi siapa yang kali ini berani mengundang buka puasa bersama? Le, balik dari Taiwan kapan? Jangan pas lebaran, jadi kita bisa buka puasa pakai NT sisa. Dan mudah-mudahan kak Dame membaca tulisan ini dan tergerak hatinya untuk mengumpulkan adik-adiknya yang bandel-bandel (kalau bandel sih kayaknya sampai sekarang masih!) untuk berbuka puasa pakai gudegnya pakde Gon, sate pak Tohir sama nasi goreng TQ, dia siap bikin koq, iya kan Q? (nitya)

Read Full Post »

No Pain No Gain

 

Waktu tahun tahun pertama anak-anak angkatan 86 dibagi menjadi dua kelas. Saya ada di kelas B, bersama dengan Pakde Gon, TQ, Anka, Heru, Riska, dll. Di kelas A, ada Simon Yossi, Ave, Yanti, Ayo dll. Untuk beberapa mata pelajaran harus diakui anak-anak kelas A jauh unggul di atas anak-anak B. Ini terbukti dari omelan dosen ternyata lebih banyak ada di kelas B. Pernah suatu ketika kami semua entah tulalit berjamaah atau memang oon bersama sampai dimarahi habis-habisan oleh dosen MK Tata Bahasa (Yth Ibu Anita), kebetulan beliau waktu itu sedang hamil anak ke dua. Jadi sudah bisa dipastikan emosinya sangat tinggi pada waktu itu, karena kaminya juga sih yang pada gak mudeng-mudeng alias gak ngerti-ngerti pelajaran Tata Bahasa. Marahlah beliau, bahkan disela-sela marahnya beliau sempat pesan es campur sama OOM Idris (OOM maksudnya Office Old Man bukan Office Boy (karena doi mang dah tua) FSUI pada saat itu). Duh dengan tenangnya beliau makan es di siang yang panas, rasanya mak nyeesss!

Gak ada mahasiswa yang protes karena kami semua mengaku salah (tepatnya ngaku bloon banget waktu itu, sekarang sih dah pinter semua), di samping itu kami semua berpikir bahwa itu kan bawaan bayi, orang hamil ngidam makan es campur kan boleh.

Memang semua berawal dari situ, selanjutnya entah karena kesepakatan bersama kami semua berjanji untuk belajar dengan lebih keras dan harus bisa bersaing dengan kelas A. Semua langkah kami tempuh termasuk minta bantuan pak Adrianus (dulu masih cute, dan sering digodain anak-anak cewek, tau deh sekarang?).

Alhasil kami semua mampu mengejar ketertinggalan kami. Dengan giat kami membabat habis semua PR yang diberikan oleh ibu Anita. Bahkan untuk maju ke papan tulis saja kami harus membuat waiting list, karena besarnya animo teman-teman untuk maju ke depan. Dan ibu Anita sangat senang melihat perubahan suasana kelas yang semangat. Ternyata, berikutnya malah kelas A yang kena semprot oleh ibu Anita lantaran tidak segarang anak-anak B dalam mengerjakan tugas di papan tulis. Ternyata usaha keras kami berhasil juga. Oh iya asisten ibu Anita yang tidak resmi pada pelajaran Tata Bahasa terutama penguraian ya Pakde Gon, dia itu jagoannya penguraian kalimat bahasa Mandarin.

Read Full Post »

Pot Bunga

Semua orang tahu pot bunga, yaitu wadah untuk menanam bunga. Tapi di FSUI ada pot tapi bukan digunakan untuk menanam bunga, melainkan untuk tempat duduk. Pot ini memang terbilang spesial meskipun bentuknya sederhana, terbuat dari tripleks dan berbentuk persegi empat, dan entah mengapa yang bisa duduk (entah bisa entah mau, jangan-jangan yang mau duduk di situ memang cuma kita) di situ ya cuma mahasiswa DIII Bahasa China doang, tepatnya anak-anak angkatan 85, 86, 87, 88. sehingga anak-anak angkatan itu banyak disebut ”anak-anak pot” oleh teman-teman dari jurusan lain.

Pot itu terletak di Gedung (no gedungnya saya lupa, tapi persis dibelakang kantor Dekanat, dulu di situ ada Kansas). Tempat tongkrongan anak-anak China itu memang yang paling strategis karena bisa melihat dan dilihat ke dan dari semua area kampus. Kalau ada teman-teman dari jurusan lain mau cari anak-anak China ya nyarinya di situ. Atau kalau selesai kuliah ya orang yang pertama kali ke luar kelas ya pasti menuju kesitu.

Pot itu seolah sudah menjadi kekaisaran China pada waktu itu, karena tidak ada satu jurusan pun yang berminat menempati tempat tersebut, meski gak ada anak-anak China. Dari Kansas (kantin sastra) memang bisa terlihat dengan jelas siapa saja yang nongkrong di situ. Sehingga para wanita yang pernah terlibat romance dengan murid Mr WYX pasti mudah memantaunya. Bahkan para dosen pun cukup melongok dari atas apakah anak-anak sudah menuju ke kelas atau masih leyeh-leyeh di pot.

Pot bunga tersebut malah tidak memiliki bunga lagi, mungkin karena tembok besar China menghalangi sinar mentari sehingga dia tidak sanggup lagi untuk tumbuh. Lagian sering dipetik untuk merayu cewek-cewek yang lewat. Tapi syukurlah bahwa tidak ada komplain dari pihak Dekanat mengenai penguasaan wilayah tersebut secara sepihak. Dan setelah anak-anak angkatan yang tadi saya sebutkan itu satu persatu lulus apakah tempat tersebut masih dikuasai anak-anak China, gak ada yang tahu.

Yang pasti, tempat itu kini telah menjadi bangunan tambahan sehingga pot itu pun hanya bisa jadi kenangan. (nitya)


Read Full Post »

Hotel Baru di China

China sepertinya memang tidak pernah berhenti untuk membuat sesuatu yang dapat membuat orang untuk datang ke sana. Salah satunya hotel yang rencananya akan selesai pada Mei 2009 ini. Hotel yang terletak di daerah Songjiang, dekat dengan Shanghai adalah hotel yang dibangun di daerah lembah atau jurang dengan kedalaman sekitar 100 meter. Hotel ini nantinya terdiri dari 400 kamar, restoran dan lainnya layaknya sebuah hotel bintang 5 yang juga dilengkapi dengan permainan di air (water activities) serta aquarium raksasa yang dapat dinikmati melalui sebuah restoran dengan kedalaman sekitar 10 meter. (from Fenny Leung)

Read Full Post »

Kuliah WYX

WYX adalah sebuah kode, kode yang hanya dikenal oleh anak-anak mahasiswa Diploma III Jurusan Bahasa China. Kode tersebut tertulis pada jadwal kuliah pada kolom pengajar. WYX adalah kode untuk dosen kita yang terhormat Bapak Wiyanto Yong. Beliau adalah salah satu dosen fave pada angkatan 84, 85, 86 angkatan lain saya gak mengikuti. Gimana gak jadi dosen fave, karena beliau itu dosen yang punya semua jawaban atas semua pertanyaan mahasiswa (kami bangga juga sempat berguru pada dosen terbaik versi majalah Ikadici terbitan edisi perdana, ada gak sih Lan majalah kayak giti?). Dan kayaknya pak Wi juga bangga lho punya mahasiswa pintar-pintar kayak kita (narsis dikit ah).

Belajar dengan pak Wi gak ada bosannya, karena kami selalu mempelajari hal-hal baru, dan kelas kami pun tidak terbatas pada ruang kelas, tapi kami sering belajar di halaman belakang kampus, bioskop, tempat wisata (seperti Kebon Binatang Ragunan), di Mega Mendung Puncak, dan tempat-tempat lain yang menurut kami menyenangkan. Di tempat-tempat tersebut kami benar-benar belajar bukan wisata atau main-main. Jadi misalnya di Ragunan kami wajib menceritakan hewan-hewan yang ada di sana (dengan menggunakan bahasa Mandarin tentunya), atau pada saat di Mega Mendung kami bercerita tentang pacar, hobby, dan hal-hal ringan lainnya dan lagi-lagi wajib menggunakan bahasa Mandarin. Sehingga keberadaan kami di tempat-tempat tersebut wajib datang karena memang benar-benar kuliah. (yah adalah unsur refreshingnya).

Ternyata hal tersebut sangat membantu kami dalam mempelajari bahasa Mandarin karena belajar kan tidak harus ada di dalam kelas. Kalau mau mempelajari tentang sayur mayur ya ada baiknya kita pergi ke pasar, atau kita pergi ke restoran ataupun kantin kampus untuk mempelajari nama-nama makanan. Banyak variasi tempat yang bisa kita gunakan untuk mendekatkan kita pada materi pelajaran yang sedang kita pelajari.

Pengalaman tadi sangat membekas di hati saya sehingga kini saya pun menganggap bahwa tempat mempelajari bahasa itu tidak harus di kelas. Terkadang saya membawa siswa saya belajar di halaman belakang sekolah, di kantin sekolah bahkan saya ajak siswa ke pasar, restoran. Dan yang membanggakan saya pernah ”membawa” siswa pergi ke China (dengan bantuan sponsor tentunya, saya cuma nebeng). Ternyata benar bahwa hal tersebut membuat para siswa lebih santai dalam mempelajari dan mereka bisa langsung praktek dan yang pasti siswa tidak boring. Thanks untuk pak Wi dari kami semua. Sekarang di Jurusan China masih ada gak ya acara kuliah model kami dulu? Gimana pak Wi? (nitya)

Read Full Post »

Read Full Post »

Hari Tanpa Jeans

Siapa mahasiswa FSUI Jurusan China yang gak kenal bu Poedji Rahayu Soegiri? Pastinya yang kuliah setelah beliau pensiun. So pasti semua yang kuliah sebelum beliau pensiun pasti kenal dengan sosok beliau. Dan memang cerita tentang beliau pasti dah melegenda banget deh di FSUI (sekarang FIB UI) Jurusan China. Cerita tentang kegalakan beliau bikin bulu kuduk beberapa mahasiswa merinding, bahkan teman kita sampai ada yang jatuh sakit (kalo ini true story, meskipun saya gak tahu apakah ybs sakit karena takut ma bu Poedji atau karena penyakit lain). Bahkan ada yang rela pindah jurusan demi jangan sampai ketemu beliau. Di balik keangkeran beliau masih ada aja mahasiswa yang iseng ( ya kayak saya ini contohnya) untuk melakukan test case terhadap bu Poedji.

Harinya saya lupa tapi ingat waktunya ya pas pelajaran bu Poedji. Beberapa hari sebelum pelajaran beliau saya iseng mengajukan usul ke teman-teman. ”Gimana kalau kita sekali-sekali kuliah pelajaran bu Poedji pakai baju yang agak bener.” Maksudnya kita semua tahulah, bahwasanya baju resmi mahasiswa itu adalah jeans, kaos oblong dan sepatu kets (seingat saya cuma Yossi yang gak pernah pakai sepatu kets). Sehingga perlu juga kita melihat reaksi bu Poedji kalau melihat mahasiswanya pakai baju yang agak bener alias pakai kemeja dan tidak pakai jeans.

Entah karena memang teman-teman kompak semua atau karena memang ingin melihat reaksi bu Poedji maka kami pun segera membongkar lemari baju di rumah berharap semoga ada pakaian layak pakai. Ternyata ada juga baju itu. Entah pinjam dari mana yang pasti hari itu semua mahasiswa (terutama cowoknya) tidak ada yang pakai jeans, kaos dan kets. Semua memakai pantalon dan kemeja sepatu kulit, yang pakai kemeja lengan panjang pun tidak digulung. Sebetulnya semua saling menertawakan satu sama lain karena aneh juga melihat diri kita hari itu berpakaian sangat berbeda dari biasanya.

Waktu pelajaran pun tiba, seperti biasa para mahasiswa sudah duduk rapi di dalam kelas. Dan semua cowok duduk di barisan terdepan dengan rapi. Detik menit pun berlalu, terdengar sepatu bu Poedji memecah kesunyian ruang perkuliahan. Begitu beliau membuka pintu! Terlihatlah pemandangan yang (mungkin) belum pernah beliau lihat sebelumnya, semua cowok duduk manis di bangku barisan depan dan mengenakan pakaian yang sopan serta (beberapa terpaksa cari parfum) berbau harum. Wajah keras bu Poedji serta merta melunak dan senyum pun mengembang sepanjang pelajaran. Sampai-sampai beliau lupa kalau hari itu ada PR yang harus dikumpulkan. Sepanjang pelajaran beliau bertanya pada mahasiswa hal remeh temeh (ini pakai bahasa beliau) seperti, sudah punya pacar belum? Tinggi kamu berapa? Ke kampus naik apa?

Ternyata pemakaian baju itu memang hanya sekali saja selama kami kuliah di UI, kuliah keesokkan harinya kami kembali memakai pakaian resmi (jeans, kaos dan sepatu kets, maklum sepatu kulitnya mau dipakai bokap). Dan begitu beliau membuka pintu kelas pada keesokkan harinya terlihatlah pemandangan yang sangat kontras dari hari kemarin. Anka rambutnya dikuncir, dan banyak cowok yang duduk di belakang. Serta merta marahlah beliau! Dan kemarahan kemarin di double hari itu. Bahkan beliau ingat kalau ada PR yang belum diperiksa. Hari itu kembali bagai neraka. Dan cewek-cewek ikut memaki kami, kalian sih gak pakai kemeja lagi, cetus mereka! Lho koq jadi kanan kiri kena nih?!

Guys, mungkin memang beliau maunya kita tuh rapi kali ya? Ternyata setelah kerja juga kita harus pakai kemeja dan pantalon seperti itu. Cuma pakde Gon aja yang kalo kerja masih pakai sarung. TQ aja dah punya lima stel rok! Ini kan kemajuan lho!

Read Full Post »

Eiffel I’m In Love

Membaca judul di atas beberapa orang (khususnya cowok) mungkin dah senyum-senyum seolah tahu kemana arah tulisan saya kali ini. Harus jujur kita akui bahwa hubungan bilateral antara China dan Prancis sangatlah akrab. Ini terlihat pada saat saya sekolah di China, saya sering melihat buku pegangan mahasiswa banyak yang menggunakan bahasa Prancis sebagai bahasa pengantar dalam belajar bahasa Mandarin.

Hubungan yang terjadi antara jurusan China dan jurusan Prancis pada waktu saya kuliah pun sangatlah harmonis dan romantis. Beberapa pendekar Shaolin terlibat hubungan asmara dengan beberapa cinewine dari negeri Eiffel. Kalau saya sebut pasti banyak yang mengelak (karena takut ketahuan bokin!) tapi jujur saya katakan bahwa saya salah satu yang terlibat di dalamnya. Sebut saja namanya AP, saya dan teman-teman se gank-nya sering manggil dia Induth. Doi cakep banget, imut banget, cute banget, pokoke she’s my everything pada saat itu. (ingat lho mah cuma pada saat kuliah aja, sekarang sih you’re my everything.)

Sebetulnya banyak yang pernah kesengsem sama anak-anak Prancis cuma kalau saya sebut satu persatu ya gak etislah. Ntar rumah tangga orang pada ribut ane gak mau tanggung jawab. Hal ini memang karena cinewine dari negeri seberang itu memang cakep-cakep semua bos! (untuk TQ, Ayo, Yanti please jangan marah, kalian tetap punya tempat koq di hati kami-kami) Ya antara lain ada Duma, Dina, Mitha (Paramitha Rusadi), Luna dll

Induth benar-benar pernah mengisi hati saya beberapa saat. Saya gak tahu alias lupa bubaran karena apa? Tapi kami tetap bersahabat sampai-sampai teman-teman gak ada yang tahu kalau kita dah bubaran. Dia pernah datang ke rumah saya malam-malam (karena pengen banget ketemu) terus saya antar doi balik. Suasana malam itu turun hujan dan lagu yang mengalun dari radio antara lain Groovy Kind of Love-nya Phill Collins (dengarnya pas malam-malam ya bos pasti saik punya tuh lagu!) sama lagu Barcelona-nya Fariz RM. Sampai sekarang kalau ada lagu itu diputar dimana aja (pastinya gak ada dipertunjukan komidi puter) saya masih ingat sama Induth. Where are you girl?

Read Full Post »

Cinta Segitiga

Di Jurusan China ada sebuah cerita menarik yang sayang bila dibuang begitu saja. Cerita ini memang enak kita dengar lantaran menceritakan kejadian tentang anak manusia yang sedang kasmaran. Gak ada kaitannya dengan cerita Sam Pek dan Eng Tay alias cerita Romeo and Juliet versi Mandarin.

Nama-namanya terpaksa saya samarkan mengingat ybs mungkin saja sudah berkeluarga, sedang mengejar gacoan baru atau bahkan sedang digaet orang. Arjunanya bermarga Lau kita panggil aja Andy Lau. Si cewek bisa aja kita panggil Jillie sama Julie. Kedua cewek ini berbeda kasta, berbeda kulit, berbeda tinggi badan dan berbeda berat badan juga, tapi yang pasti keduanya sama-sama cantik (kalo gak cantik gak bakalan diterima di Jurusan China).

Baik Jillie maupun Jullie memang bagaikan pinang tak terbelah, mereka terkadang akrab satu sama lain, tapi terkadang berseteru satu sama lain demi mendapat cinta, perhatian dan hati Lau. Lau memang cowok yang keren, cool abis bro! Pendiam, kalem, pintar. Gimana gak pintar lha wong kalo bikin kalimat dalam bahasa Mandarin, kita-kita masih pakai kata yang cemen, dia sudah pakai bahasa diplomatik (berlebihan gak sih gue?)

Kalo dah gitu cewek mana sih yang gak klepek-klepek lihat cowok kayak gitu? Begitu juga Jillie dan Jullie keduanya selalu mencuri-curi kesempatan untuk bisa bersama dengan sang Arjuna. Hmm… pakai ilmu apa si Lau ya? Diakhir kuliah gak ada yang tahu siapa yang beruntung disunting oleh sang Arjuna. Saya cuma dengar isu dia pindah ke luar negeri. Terus mengenai si cinewine-nya? Jillie? Kami (Simon, Saya, Pak Wi) sempat bertemu waktu bokapnya Limi meninggal, doi datang dengan suaminya. Jullie? Gak ada yang tahu dia di mana?

Cerita itu kini cuma jadi kenangan untuk kami yang menjadi penonton namun pastinya meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi mereka bertiga (sebenarnya ada juga cowok yang selalu jalan bareng sama Lau namanya Stewart). Kemana juga tuh anak? Kalian pasti tahu dong siapa tokoh yang saya maksud?

Nb. Nama-nama tokoh diatas dah saya samarkan. Tapi kalau ketahuan juga gak papa, kita kan memang sedikit jumlah mahasiswanya. Dan kisah cinta mereka memang legendaris banget sih.

Read Full Post »