Feeds:
Posts
Comments

Archive for September 5th, 2008

Advertisements

Read Full Post »

Hari Tanpa Jeans

Siapa mahasiswa FSUI Jurusan China yang gak kenal bu Poedji Rahayu Soegiri? Pastinya yang kuliah setelah beliau pensiun. So pasti semua yang kuliah sebelum beliau pensiun pasti kenal dengan sosok beliau. Dan memang cerita tentang beliau pasti dah melegenda banget deh di FSUI (sekarang FIB UI) Jurusan China. Cerita tentang kegalakan beliau bikin bulu kuduk beberapa mahasiswa merinding, bahkan teman kita sampai ada yang jatuh sakit (kalo ini true story, meskipun saya gak tahu apakah ybs sakit karena takut ma bu Poedji atau karena penyakit lain). Bahkan ada yang rela pindah jurusan demi jangan sampai ketemu beliau. Di balik keangkeran beliau masih ada aja mahasiswa yang iseng ( ya kayak saya ini contohnya) untuk melakukan test case terhadap bu Poedji.

Harinya saya lupa tapi ingat waktunya ya pas pelajaran bu Poedji. Beberapa hari sebelum pelajaran beliau saya iseng mengajukan usul ke teman-teman. ”Gimana kalau kita sekali-sekali kuliah pelajaran bu Poedji pakai baju yang agak bener.” Maksudnya kita semua tahulah, bahwasanya baju resmi mahasiswa itu adalah jeans, kaos oblong dan sepatu kets (seingat saya cuma Yossi yang gak pernah pakai sepatu kets). Sehingga perlu juga kita melihat reaksi bu Poedji kalau melihat mahasiswanya pakai baju yang agak bener alias pakai kemeja dan tidak pakai jeans.

Entah karena memang teman-teman kompak semua atau karena memang ingin melihat reaksi bu Poedji maka kami pun segera membongkar lemari baju di rumah berharap semoga ada pakaian layak pakai. Ternyata ada juga baju itu. Entah pinjam dari mana yang pasti hari itu semua mahasiswa (terutama cowoknya) tidak ada yang pakai jeans, kaos dan kets. Semua memakai pantalon dan kemeja sepatu kulit, yang pakai kemeja lengan panjang pun tidak digulung. Sebetulnya semua saling menertawakan satu sama lain karena aneh juga melihat diri kita hari itu berpakaian sangat berbeda dari biasanya.

Waktu pelajaran pun tiba, seperti biasa para mahasiswa sudah duduk rapi di dalam kelas. Dan semua cowok duduk di barisan terdepan dengan rapi. Detik menit pun berlalu, terdengar sepatu bu Poedji memecah kesunyian ruang perkuliahan. Begitu beliau membuka pintu! Terlihatlah pemandangan yang (mungkin) belum pernah beliau lihat sebelumnya, semua cowok duduk manis di bangku barisan depan dan mengenakan pakaian yang sopan serta (beberapa terpaksa cari parfum) berbau harum. Wajah keras bu Poedji serta merta melunak dan senyum pun mengembang sepanjang pelajaran. Sampai-sampai beliau lupa kalau hari itu ada PR yang harus dikumpulkan. Sepanjang pelajaran beliau bertanya pada mahasiswa hal remeh temeh (ini pakai bahasa beliau) seperti, sudah punya pacar belum? Tinggi kamu berapa? Ke kampus naik apa?

Ternyata pemakaian baju itu memang hanya sekali saja selama kami kuliah di UI, kuliah keesokkan harinya kami kembali memakai pakaian resmi (jeans, kaos dan sepatu kets, maklum sepatu kulitnya mau dipakai bokap). Dan begitu beliau membuka pintu kelas pada keesokkan harinya terlihatlah pemandangan yang sangat kontras dari hari kemarin. Anka rambutnya dikuncir, dan banyak cowok yang duduk di belakang. Serta merta marahlah beliau! Dan kemarahan kemarin di double hari itu. Bahkan beliau ingat kalau ada PR yang belum diperiksa. Hari itu kembali bagai neraka. Dan cewek-cewek ikut memaki kami, kalian sih gak pakai kemeja lagi, cetus mereka! Lho koq jadi kanan kiri kena nih?!

Guys, mungkin memang beliau maunya kita tuh rapi kali ya? Ternyata setelah kerja juga kita harus pakai kemeja dan pantalon seperti itu. Cuma pakde Gon aja yang kalo kerja masih pakai sarung. TQ aja dah punya lima stel rok! Ini kan kemajuan lho!

Read Full Post »