Feeds:
Posts
Comments

Archive for September 25th, 2008

Puasa di Kampung Orang

Bulan Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nantikan oleh jutaan umat muslim di seluruh dunia. Bila Ramadhan datang maka suasana bulan tersebut menjadi sangat teduh di hati. Demikian juga yang pernah saya rasakan ketika saya harus berpuasa di negeri orang, China pada tahun 1999 lalu. Beberapa hari sebelum Ramadhan saya mengajak teman-teman saya dari Bangladesh, Tajikistan, Kirgizstan untuk mengunjungi sebuah masjid (kalau di sini mungkin dibilang Musholla karena kecil) di kota tempat saya belajar Luoyang Propinsi Henan, guna mencari informasi tanggal 1 Ramadhan serta meminta jadwal waktu imsak, berbuka puasa setiap harinya. Kebetulan Ramadhan pada tahun itu jatuh pada bulan Desember dan merupakan musim dingin. Alhamdullillah, kami diterima oleh Ahong masjid dan mereka menyambut kami dengan baik, setelah sholat kami pun kembali ke kampus.
Sesampainya di kampus kami menghadap Kepala Sekolah dan menjelaskan tentang rencana ibadah kami di bulan Ramadhan. Ternyata Kepala Sekolah tidak keberatan dengan rencana kami tersebut dan akan membantu kami untuk menyiapkan makan sahur (padahal kami sudah menolak agar jangan merepotkan pihak kampus ternyata mereka tetap akan menyiapkan, hiks hati kami terenyuh juga padahal mereka kan komunis ya?). Dan begitu memulai Ramadhan kami pun mulai sahur. Inilah yang terberat. Bagaimana tidak berat, kami harus bangun pagi-pagi sekali menahan udara dingin (terkadang mencapai -10˚ C) untuk pergi ke ruang makan diluar asrama (memang sih asrama dan ruang makan hanya berjarak sekitar 10 m, tapi udara dingin itulah yang sangat berat untuk kami. Ritual memakai lima lapis baju plus jaket menjadi hal yang merepotkan daripada sahurnya itu sendiri. Dan kebetulan hanya enam orang muslim yang berpuasa (sebetulnya ada beberapa muslim dari negara lain tapi mereka menganggap bahwa puasa itu tidak wajib) dan setiap pagi sudah sampai di ruang makan ditemani koki yang kembali tertidur di meja makan. Kalau melihat jam maka terlihat pukul 05.00 waktu setempat tapi langit masih sangat gelap. Karenanya imsak di sana pukul 05.45 (hampir jam enam pagi). Subuh pukul 06.00 pagi.
Hal terberat lainnya adalah menahan kantuk di dalam kelas, saya sering ketahuan teman-teman tengah menahan kantuk sehingga saya punya trik untuk tidak tertidur di kelas yaitu bertanya ke dosen. Jadi setiap saya bertanya pada dosen, teman-teman pasti tertawa karena mereka tahu pada saat itulah saya sebetulnya sedang mengantuk dan mengalihkannya dengan bertanya. Bagi teman-teman dari negara lain banyak yang bertanya mengenai masalah puasa ini, saya pun menjelaskan kepada mereka tentang ajaran agama Islam yang mewajibkan umatnya untuk berpuasa. Bahkan Maurius teman saya dari Polandia merasa kehilangan teman setiap makan siang karenanya dia pun ingin ikutan berpuasa. Karena kami yang biasa makan siang semeja dengannya semua melaksanakan ibadah puasa.
Hal yang menyenangkan adalah saat berbuka puasa. Pada saat musim dingin berpuasa di China sangat menyenangkan karena siang di sana berlangsung sangat singkat, pukul 16.00 kami sudah berbuka puasa. Kabarnya pada saat musim panas justru sangat lama (Herlan pernah tuh puasa di Beijing saat musim panas) buka puasa bisa sampai jam 20.00 lewat.
Sampailah saatnya Idul Fitri. Malamnya saya mohon ke Kepala Sekolah agar kami dipinjami kendaraan untuk bisa pergi ke Masjid agar bisa melaksanakan sholat Ied. Pagi itu adalah udara terdingin yang pernah saya rasakan (suhu saat itu mencapai -36˚C). Kami tidak kuat berlama-lama di udara terbuka, seluruh badan terasa teriris-iris (karena dinginnya). Sesampainya di masjid kami mulai curiga mengapa masjid koq tampak sepi sekali. Kami masuk ke dalam dan disambut Ahong (pemuka) masjid dan kami menanyakan tentang sholat Ied, dia dengan enteng menjawab bahwa hari ini hari Sabtu banyak orang yang bekerja jadi sholatnya besok saja pada hari minggu (alamak! Koq bisa sholat Ied digeser hanya lantaran sebagian umatnya tidak libur). Kami kecewa tapi akhirnya kami diajak keliling masjid dan mendapat penjelasan tentang situasi masjid tersebut sambil diperlihatkan Al Quran dengan terjemahan huruf China. Akhirnya kami pun kembali ke asrama.
Sesampainya di asrama Amir, Harun, Radzaq (teman-teman saya dari Bangladesh) mengundang kami ke ruangannya untuk menikmati hidangan a la Bangladesh buatan istri-istri mereka. Dan saya baru pertama kali makan masakan termanis di dunia yang pernah saya rasakan (sampai mual rasanya).
Tidak hanya di China di Indonesia pun suasana Ramadhan selalu kita rindukan. (nitya)

Advertisements

Read Full Post »