Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2008

Hari Tanpa Jeans

Siapa mahasiswa FSUI Jurusan China yang gak kenal bu Poedji Rahayu Soegiri? Pastinya yang kuliah setelah beliau pensiun. So pasti semua yang kuliah sebelum beliau pensiun pasti kenal dengan sosok beliau. Dan memang cerita tentang beliau pasti dah melegenda banget deh di FSUI (sekarang FIB UI) Jurusan China. Cerita tentang kegalakan beliau bikin bulu kuduk beberapa mahasiswa merinding, bahkan teman kita sampai ada yang jatuh sakit (kalo ini true story, meskipun saya gak tahu apakah ybs sakit karena takut ma bu Poedji atau karena penyakit lain). Bahkan ada yang rela pindah jurusan demi jangan sampai ketemu beliau. Di balik keangkeran beliau masih ada aja mahasiswa yang iseng ( ya kayak saya ini contohnya) untuk melakukan test case terhadap bu Poedji.

Harinya saya lupa tapi ingat waktunya ya pas pelajaran bu Poedji. Beberapa hari sebelum pelajaran beliau saya iseng mengajukan usul ke teman-teman. ”Gimana kalau kita sekali-sekali kuliah pelajaran bu Poedji pakai baju yang agak bener.” Maksudnya kita semua tahulah, bahwasanya baju resmi mahasiswa itu adalah jeans, kaos oblong dan sepatu kets (seingat saya cuma Yossi yang gak pernah pakai sepatu kets). Sehingga perlu juga kita melihat reaksi bu Poedji kalau melihat mahasiswanya pakai baju yang agak bener alias pakai kemeja dan tidak pakai jeans.

Entah karena memang teman-teman kompak semua atau karena memang ingin melihat reaksi bu Poedji maka kami pun segera membongkar lemari baju di rumah berharap semoga ada pakaian layak pakai. Ternyata ada juga baju itu. Entah pinjam dari mana yang pasti hari itu semua mahasiswa (terutama cowoknya) tidak ada yang pakai jeans, kaos dan kets. Semua memakai pantalon dan kemeja sepatu kulit, yang pakai kemeja lengan panjang pun tidak digulung. Sebetulnya semua saling menertawakan satu sama lain karena aneh juga melihat diri kita hari itu berpakaian sangat berbeda dari biasanya.

Waktu pelajaran pun tiba, seperti biasa para mahasiswa sudah duduk rapi di dalam kelas. Dan semua cowok duduk di barisan terdepan dengan rapi. Detik menit pun berlalu, terdengar sepatu bu Poedji memecah kesunyian ruang perkuliahan. Begitu beliau membuka pintu! Terlihatlah pemandangan yang (mungkin) belum pernah beliau lihat sebelumnya, semua cowok duduk manis di bangku barisan depan dan mengenakan pakaian yang sopan serta (beberapa terpaksa cari parfum) berbau harum. Wajah keras bu Poedji serta merta melunak dan senyum pun mengembang sepanjang pelajaran. Sampai-sampai beliau lupa kalau hari itu ada PR yang harus dikumpulkan. Sepanjang pelajaran beliau bertanya pada mahasiswa hal remeh temeh (ini pakai bahasa beliau) seperti, sudah punya pacar belum? Tinggi kamu berapa? Ke kampus naik apa?

Ternyata pemakaian baju itu memang hanya sekali saja selama kami kuliah di UI, kuliah keesokkan harinya kami kembali memakai pakaian resmi (jeans, kaos dan sepatu kets, maklum sepatu kulitnya mau dipakai bokap). Dan begitu beliau membuka pintu kelas pada keesokkan harinya terlihatlah pemandangan yang sangat kontras dari hari kemarin. Anka rambutnya dikuncir, dan banyak cowok yang duduk di belakang. Serta merta marahlah beliau! Dan kemarahan kemarin di double hari itu. Bahkan beliau ingat kalau ada PR yang belum diperiksa. Hari itu kembali bagai neraka. Dan cewek-cewek ikut memaki kami, kalian sih gak pakai kemeja lagi, cetus mereka! Lho koq jadi kanan kiri kena nih?!

Guys, mungkin memang beliau maunya kita tuh rapi kali ya? Ternyata setelah kerja juga kita harus pakai kemeja dan pantalon seperti itu. Cuma pakde Gon aja yang kalo kerja masih pakai sarung. TQ aja dah punya lima stel rok! Ini kan kemajuan lho!

Advertisements

Read Full Post »

Eiffel I’m In Love

Membaca judul di atas beberapa orang (khususnya cowok) mungkin dah senyum-senyum seolah tahu kemana arah tulisan saya kali ini. Harus jujur kita akui bahwa hubungan bilateral antara China dan Prancis sangatlah akrab. Ini terlihat pada saat saya sekolah di China, saya sering melihat buku pegangan mahasiswa banyak yang menggunakan bahasa Prancis sebagai bahasa pengantar dalam belajar bahasa Mandarin.

Hubungan yang terjadi antara jurusan China dan jurusan Prancis pada waktu saya kuliah pun sangatlah harmonis dan romantis. Beberapa pendekar Shaolin terlibat hubungan asmara dengan beberapa cinewine dari negeri Eiffel. Kalau saya sebut pasti banyak yang mengelak (karena takut ketahuan bokin!) tapi jujur saya katakan bahwa saya salah satu yang terlibat di dalamnya. Sebut saja namanya AP, saya dan teman-teman se gank-nya sering manggil dia Induth. Doi cakep banget, imut banget, cute banget, pokoke she’s my everything pada saat itu. (ingat lho mah cuma pada saat kuliah aja, sekarang sih you’re my everything.)

Sebetulnya banyak yang pernah kesengsem sama anak-anak Prancis cuma kalau saya sebut satu persatu ya gak etislah. Ntar rumah tangga orang pada ribut ane gak mau tanggung jawab. Hal ini memang karena cinewine dari negeri seberang itu memang cakep-cakep semua bos! (untuk TQ, Ayo, Yanti please jangan marah, kalian tetap punya tempat koq di hati kami-kami) Ya antara lain ada Duma, Dina, Mitha (Paramitha Rusadi), Luna dll

Induth benar-benar pernah mengisi hati saya beberapa saat. Saya gak tahu alias lupa bubaran karena apa? Tapi kami tetap bersahabat sampai-sampai teman-teman gak ada yang tahu kalau kita dah bubaran. Dia pernah datang ke rumah saya malam-malam (karena pengen banget ketemu) terus saya antar doi balik. Suasana malam itu turun hujan dan lagu yang mengalun dari radio antara lain Groovy Kind of Love-nya Phill Collins (dengarnya pas malam-malam ya bos pasti saik punya tuh lagu!) sama lagu Barcelona-nya Fariz RM. Sampai sekarang kalau ada lagu itu diputar dimana aja (pastinya gak ada dipertunjukan komidi puter) saya masih ingat sama Induth. Where are you girl?

Read Full Post »

Cinta Segitiga

Di Jurusan China ada sebuah cerita menarik yang sayang bila dibuang begitu saja. Cerita ini memang enak kita dengar lantaran menceritakan kejadian tentang anak manusia yang sedang kasmaran. Gak ada kaitannya dengan cerita Sam Pek dan Eng Tay alias cerita Romeo and Juliet versi Mandarin.

Nama-namanya terpaksa saya samarkan mengingat ybs mungkin saja sudah berkeluarga, sedang mengejar gacoan baru atau bahkan sedang digaet orang. Arjunanya bermarga Lau kita panggil aja Andy Lau. Si cewek bisa aja kita panggil Jillie sama Julie. Kedua cewek ini berbeda kasta, berbeda kulit, berbeda tinggi badan dan berbeda berat badan juga, tapi yang pasti keduanya sama-sama cantik (kalo gak cantik gak bakalan diterima di Jurusan China).

Baik Jillie maupun Jullie memang bagaikan pinang tak terbelah, mereka terkadang akrab satu sama lain, tapi terkadang berseteru satu sama lain demi mendapat cinta, perhatian dan hati Lau. Lau memang cowok yang keren, cool abis bro! Pendiam, kalem, pintar. Gimana gak pintar lha wong kalo bikin kalimat dalam bahasa Mandarin, kita-kita masih pakai kata yang cemen, dia sudah pakai bahasa diplomatik (berlebihan gak sih gue?)

Kalo dah gitu cewek mana sih yang gak klepek-klepek lihat cowok kayak gitu? Begitu juga Jillie dan Jullie keduanya selalu mencuri-curi kesempatan untuk bisa bersama dengan sang Arjuna. Hmm… pakai ilmu apa si Lau ya? Diakhir kuliah gak ada yang tahu siapa yang beruntung disunting oleh sang Arjuna. Saya cuma dengar isu dia pindah ke luar negeri. Terus mengenai si cinewine-nya? Jillie? Kami (Simon, Saya, Pak Wi) sempat bertemu waktu bokapnya Limi meninggal, doi datang dengan suaminya. Jullie? Gak ada yang tahu dia di mana?

Cerita itu kini cuma jadi kenangan untuk kami yang menjadi penonton namun pastinya meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi mereka bertiga (sebenarnya ada juga cowok yang selalu jalan bareng sama Lau namanya Stewart). Kemana juga tuh anak? Kalian pasti tahu dong siapa tokoh yang saya maksud?

Nb. Nama-nama tokoh diatas dah saya samarkan. Tapi kalau ketahuan juga gak papa, kita kan memang sedikit jumlah mahasiswanya. Dan kisah cinta mereka memang legendaris banget sih.

Read Full Post »

« Newer Posts