Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Sahabat’ Category

Puasa di Kampung Orang

Bulan Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nantikan oleh jutaan umat muslim di seluruh dunia. Bila Ramadhan datang maka suasana bulan tersebut menjadi sangat teduh di hati. Demikian juga yang pernah saya rasakan ketika saya harus berpuasa di negeri orang, China pada tahun 1999 lalu. Beberapa hari sebelum Ramadhan saya mengajak teman-teman saya dari Bangladesh, Tajikistan, Kirgizstan untuk mengunjungi sebuah masjid (kalau di sini mungkin dibilang Musholla karena kecil) di kota tempat saya belajar Luoyang Propinsi Henan, guna mencari informasi tanggal 1 Ramadhan serta meminta jadwal waktu imsak, berbuka puasa setiap harinya. Kebetulan Ramadhan pada tahun itu jatuh pada bulan Desember dan merupakan musim dingin. Alhamdullillah, kami diterima oleh Ahong masjid dan mereka menyambut kami dengan baik, setelah sholat kami pun kembali ke kampus.
Sesampainya di kampus kami menghadap Kepala Sekolah dan menjelaskan tentang rencana ibadah kami di bulan Ramadhan. Ternyata Kepala Sekolah tidak keberatan dengan rencana kami tersebut dan akan membantu kami untuk menyiapkan makan sahur (padahal kami sudah menolak agar jangan merepotkan pihak kampus ternyata mereka tetap akan menyiapkan, hiks hati kami terenyuh juga padahal mereka kan komunis ya?). Dan begitu memulai Ramadhan kami pun mulai sahur. Inilah yang terberat. Bagaimana tidak berat, kami harus bangun pagi-pagi sekali menahan udara dingin (terkadang mencapai -10˚ C) untuk pergi ke ruang makan diluar asrama (memang sih asrama dan ruang makan hanya berjarak sekitar 10 m, tapi udara dingin itulah yang sangat berat untuk kami. Ritual memakai lima lapis baju plus jaket menjadi hal yang merepotkan daripada sahurnya itu sendiri. Dan kebetulan hanya enam orang muslim yang berpuasa (sebetulnya ada beberapa muslim dari negara lain tapi mereka menganggap bahwa puasa itu tidak wajib) dan setiap pagi sudah sampai di ruang makan ditemani koki yang kembali tertidur di meja makan. Kalau melihat jam maka terlihat pukul 05.00 waktu setempat tapi langit masih sangat gelap. Karenanya imsak di sana pukul 05.45 (hampir jam enam pagi). Subuh pukul 06.00 pagi.
Hal terberat lainnya adalah menahan kantuk di dalam kelas, saya sering ketahuan teman-teman tengah menahan kantuk sehingga saya punya trik untuk tidak tertidur di kelas yaitu bertanya ke dosen. Jadi setiap saya bertanya pada dosen, teman-teman pasti tertawa karena mereka tahu pada saat itulah saya sebetulnya sedang mengantuk dan mengalihkannya dengan bertanya. Bagi teman-teman dari negara lain banyak yang bertanya mengenai masalah puasa ini, saya pun menjelaskan kepada mereka tentang ajaran agama Islam yang mewajibkan umatnya untuk berpuasa. Bahkan Maurius teman saya dari Polandia merasa kehilangan teman setiap makan siang karenanya dia pun ingin ikutan berpuasa. Karena kami yang biasa makan siang semeja dengannya semua melaksanakan ibadah puasa.
Hal yang menyenangkan adalah saat berbuka puasa. Pada saat musim dingin berpuasa di China sangat menyenangkan karena siang di sana berlangsung sangat singkat, pukul 16.00 kami sudah berbuka puasa. Kabarnya pada saat musim panas justru sangat lama (Herlan pernah tuh puasa di Beijing saat musim panas) buka puasa bisa sampai jam 20.00 lewat.
Sampailah saatnya Idul Fitri. Malamnya saya mohon ke Kepala Sekolah agar kami dipinjami kendaraan untuk bisa pergi ke Masjid agar bisa melaksanakan sholat Ied. Pagi itu adalah udara terdingin yang pernah saya rasakan (suhu saat itu mencapai -36˚C). Kami tidak kuat berlama-lama di udara terbuka, seluruh badan terasa teriris-iris (karena dinginnya). Sesampainya di masjid kami mulai curiga mengapa masjid koq tampak sepi sekali. Kami masuk ke dalam dan disambut Ahong (pemuka) masjid dan kami menanyakan tentang sholat Ied, dia dengan enteng menjawab bahwa hari ini hari Sabtu banyak orang yang bekerja jadi sholatnya besok saja pada hari minggu (alamak! Koq bisa sholat Ied digeser hanya lantaran sebagian umatnya tidak libur). Kami kecewa tapi akhirnya kami diajak keliling masjid dan mendapat penjelasan tentang situasi masjid tersebut sambil diperlihatkan Al Quran dengan terjemahan huruf China. Akhirnya kami pun kembali ke asrama.
Sesampainya di asrama Amir, Harun, Radzaq (teman-teman saya dari Bangladesh) mengundang kami ke ruangannya untuk menikmati hidangan a la Bangladesh buatan istri-istri mereka. Dan saya baru pertama kali makan masakan termanis di dunia yang pernah saya rasakan (sampai mual rasanya).
Tidak hanya di China di Indonesia pun suasana Ramadhan selalu kita rindukan. (nitya)

Advertisements

Read Full Post »

Éwén

Éwén hanzi nya 俄文 artinya adalah Bahasa Rusia. Itu menurut Kamus Bahasa Tionghoa-Indonesia terbitan Beijing. Tapi menurut versi kami, mahasiswa D-III Bahasa China É wén yang hanzi nya 俄文, éwén itu artinya adalah Firman. Mengapa artinya bisa jadi Firman? Berikut ini kisahnya.

Huruf ‘e’ yang saya tulis pada huruf éwén seharusnya dibaca ‘e’ lemah seperti kita mengucapkan e pada kata emas. Bukannya e pada kata ember. Nah ada satu orang teman kami namanya Firman (nama lengkapnya saya lupa, mau tanya Ibu Pudji Rahayu Soegiri tidak mungkin karena Firman kayaknya  belum pernah belajar sama Ibu Pudji Rahayu Soegiri. Ibu dosen yang satu ini hafal nama semua mahasiswa jurusan China, termasuk alamat serta nama orang tuanya! Baik yang S-1 maupun D-III) yang gak bisa mengucapkan huruf ‘e’ tadi sesuai dengan cara mengucapkan dalam ejaan Pinyin (mudah-udahan teman-teman masih tahu apa yang disebut Pinyin). Jadi dia gak bisa menyebut e (e-mas) tetapi selalu e (e-mber).

Ibu Anita Amran Luhay (mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan nama, gelar) pernah nge-drill Firman sebanyak sepuluh kali berturut-turut kata éwén dan hanya satu kali berhasil dilakukan oleh Firman. Dan pada saat berhasil itu dia mendapat tepuk tangan dari teman-teman sekelas, bahkan standing ovation (itu lho tepuk tangan sampai berdiri untuk menyatakan penghormatan) tapi setelah itu dia gagal lagi.

Itulah asal muasal kata éwén yang hanzi nya 俄文 artinya sebenarnya adalah Bahasa Rusia, memiliki arti lain yaitu Firman. Dia adalah salah seorang teman yang inovatif selalu mencoba gagasannya sendiri, meskipun salah, tapi teorinya tentang kemungkinan selalu dia terapkan meskipun sedang belajar Bahasa Mandarin. Sosoknya yang ceria, serta logat Minangnya yang kental (ini pula yang membuat dia gak bisa ngomong éwén kali ya?)  membuat dia menjadi teman yang baik bagi kita semua.   Dan semenjak peristiwa itulah nama éwén lebih dikenal daripada nama aslinya Firman. Wén di mana dirimu? Lamo indak basuo. (nitya)

 

Read Full Post »

Nasi Goreng

Semua orang pasti pernah makan nasi goreng. Masakan yang dulu adanya cuma pagi hari kini dapat dijumpai di kota Jakarta (terutama kampung gue yang sekarang, Kemayoran), hingga larut malam. Berbagai macam isian bisa dicampur pada pembuatan nasi goreng. Dari mulai, telur ayam, daging, hingga sayuran sebagai pelengkapnya.

Tapi yang mau saya bahas adalah Nasi Goreng TQ. Nasi Goreng TQ ini susah didapat, keluar cuma pada ivent-ivent tertentu aja, seperti inisiasi mahasiswa baru! Nasi Goreng TQ gak bisa dicari di restoran mana pun juga. Nah TQ itu sebetulnya nama sahabat saya yang baik banget dan dia jago banget masak nasi goreng. Makanya nama nasi gorengnya kita namain pake TQ, enak gak enak para mahasiswa baru pasti bilang enak. Itulah kelebihan nasgor tsb. Dan setiap anak-anak China ada acara keluar doi pasti jadi kokinya dan masakan istimewanya ya nasi goreng tadi.

Saking enaknya tuh nasi goreng sampai-sampai pernah suaminya Jie Inggrid (eh iya dimana ya Jie Inggrid sekarang? Ada yang tahu gak?) sampai gak kebagian sarapan padahal kita udah nawarin dia lho (emang kita-kita crazy bgt ma nasi goreng TQ). Nama lengkap dia selalu dipanggil Dyah Sari Suteki  oleh Ibu Poedji Rahayu Soegiri (maaf apabila ada kesalahan pada penulisan nama, gelar). Emang itu namanya. Cewek satu ini selama gue kenal baru sekali pakai rok, yaitu waktu Praktek Kerja di Kejaksaan Agung RI. Makanya kita sering godain dia. Sekarang seringnya pake rok kali ya Q?

Eh iya, karena dia juga saya terinspirasi untuk belajar bikin nasi goreng, sehingga ilmu masak nasi goreng itu bisa saya terapkan pada saat saya ngajar siswa bahasa Mandarin di kantor. Sebab dulu saya sama Ayo sering disuruh bantuin dia, terutama bantuin ngicipin.

Q, kapan kita bikin Nasi Goreng TQ lagi nih? Gue tunggu. (nitya)

Read Full Post »

Gudeg Pakde Gon

Semua orang pasti mengenal gudeg. Makanan asli dari Ngayogyokarto Hadiningrat. Sehingga tidak heran, selain disebut kota Pelajar kota Yogya juga sering disebut kota Gudeg. Berbagai macam gudeg sering dijual dengan membawa nama pembuatnya seperti Gudeg Bu Citro yang kondang itu. Nah saya akan bercerita tentang Gudeg Pakde Gon. Gudeg Pakde Gon hanya ada di daerah Citeureup Jawa Barat. Tepatnya di depan pasar yang tidak jauh dari perempatan Citeureup. Gudegnya mak nyusss! Sayang aja pak Bondang belum pernah berkunjung ke sana, karena tempatnya agak nyempil! Pindah tempat dong Pakde, ke Pondok Indah! (he…he…he…)

Gudeg Pakde Gon ini saya angkat bukan saja karena garang asemnya yang uenak, es jahenya yang legit (menurut Pakde Gon ini hasil racikannya sendiri setelah nemu wangsit di Gunung Sahari, Jakarta karena kesasar mau ke rumah gue!) serta tempe bacemnya yang top markotop (pinjam bahasanya Pak Bondan lagi). Cerita tentang gudeg Pakde Gon ini semata-mata karena Pakde Gon adalah sahabat kami. Nama sebenarnya Amir Fatah. (Heru86 bilang sih masih saudaraan sama Donny Fatah, Tau tuh Heru nemu silsilah si Amir dari mana?) Dia mahasiswa China angkatan 85. (mohon maaf bila terdapat kesalahan penulisan nama, gelar atau pun tahun angkatan).

Nama Pakde ini diambil karena dia satu-satunya pedagang yang paling tua di lingkungan pasar tersebut (he…he…he… ini gue ngarang beneran). Sedangkan Gon adalah kependekan dari Gondrong. Emang sejak kita masuk kuliah Amir (biasa temen-temen panggil Aming, jadi dia lebih dulu ngetop daripada Aming Extravaganza. Di lingkungan kita tentunya) udah gondrong habis. Gondrongnya kayak Kenny G. Bah, keren habis deh boss! Jadilah selain Amir, Aming dia juga kita panggil Gondrong

Aku, TQ, Ayo (86) sama Sonny Gede87 (mohon maaf bila terdapat kesalahan penulisan nama, gelar ataupun tahun angkatan) pernah berkunjung untuk bersilturahmi ke Restoran Gudeg Pakde Gon, sebetulnya lebih tepat dikatakan minta makan sih. But anyway, busway. Gudegnya bener-bener uenak. TQ aja sampe kebawa-bawa mimpi. Nah buat kalian yang tinggal di sekitar Cibubur, gak ada salahnya deh kenalan sama Pakde Gon siapa tahu aja disuruh nyobain gudegnya juga, tapi jangan lupa setelah makan tinggalkanlah uang beberapa ribu rupiah sebagai ganti makanan yang kalian makan. Pasti Pakde Gon akan menerima kalian dengan tangan terbuka dan senang hati, betulkan Pakde? Kapan nih ngundang kita lagi ke restoran Pakde? Kita tunggu ya. (nitya)

Read Full Post »