Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Tjerita Tempo Doeloe’ Category

Kuningan

”Kalo udah lulus kita cari kerjanya di daerah Kuningan (Jl. Kuningan Jakarta Selatan) aja.” Simon usul ke teman-teman. ”Biar kalo makan siang kita bisa janjian makan bareng. Terus pulang kantor masih bisa jalan bareng.” Sebagian teman-teman ada yang tidak menanggapi lantaran sibuk membayangkan suasana kalau kita sudah kerja terus masih bisa janjian, pasti seru, pikir mereka. Tapi cita-cita tinggallah cita-cita, bulan madu pun hanya mimpi (kayak lagu jaman dulu ya?). Rencana tersebut gak kesampaian. Simon yang punya usul sekarang kerja di daerah Kwitang (yah dekat sih dari Kuningan), TQ di Sudirman, saya di pinggiran Jakarta (daerah tempat saya kerja gak masuk peta Jakarta), Anka jauh di bumi Serambi Mekah, Herlan alias Bule malah di Taiwan. Gak tahu ada gak ya yang kerja di daerah situ? (Simon, kita butuh konfirmasinya nih, he…he…he…)

Rencana, pemikiran, ide seperti itu terlontar lantaran kita-kita pada waktu itu memang sulit dipisahkan satu sama lain. Nonton bareng, ngelayap bareng, tidur bareng (tapi cowok and ceweknya misah) semua sudah pernah kita lakukan. Sehingga keingginan untuk selalu bersama besar sekali, tapi sayang seribu kali sayang cita-cita tersebut kandas di tengah jalan. Lantaran nasib menentukan kita harus memilih jalan masing-masing.

Untuk mengobati rasa kangen akan kebersamaan itu selalu ada, anak-anak (angkatan 85-86) sering kumpul bareng pulang kantor, biasanya di daerah Sudirman-Thamrin. Dan bukan hanya mahasiswanya, pak Wiyanto Yong (dosen kita yang paling hebat itu) pernah hang out bareng sama kita-kita. Beliau bilang anak-anak memang gak ada duanya. Tak ada yang istimewa dari pertemuan itu hanya sekedar kongkow bercerita tentang masa lalu.

Memang sih kantor kita berjauhan, waktu kita habis terkuras untuk pekerjaan, keluarga dan lain-lain. Namun hati kita masih saling mengingat satu sama. Dan ternyata melalui weblog ini kita bisa merajut kembali jarak yang terpisah jauh antara Indonesia-Taiwan-USA (belom sampe nih beritanya). Dan juga jarak antarangkatan dari 1984 sampai 2000 an.

Advertisements

Read Full Post »

Nyontek 2

Kalo tulisan Nyontek 1 mengenai diri saya pribadi, tapi pada artikel ini saya mau cerita tentang nyontek juga yang dilakukan pada waktu ujian akhir di tingkat akhir. Ceritanya hari itu kami semua sedah siap mengikuti ujian korespondesi (lagi-lagi kalo gak salah, soalnya gue pelupa banget). Dosennya (yang kita cintai bersama) Almarhumah Ibu Oey Soan Nio (kami sering memanggil beliau dengan Oma, karena beliau pada waktu mengajar kami usianya sudah sepuh sekali).

Seperti biasa ujian selalu tenang karena ada istilah tabu untuk nyontek bagi anak-anak sekelas. Di samping itu sang Dosen pun tidak pernah beranjak dari kursinya untuk mengawasi kami semua. Para mahasiswa dengan tenangnya mengerjakan soal ujian. Mungkin sang dosen berpikir bahwa anak-anak sudah sadar bahwa menyontek itu tidak baik. Maka beliau pun keluar ruangan. Begitu beliau keluar maka bagai tawon yang mendadak keluar dari sarangnya semua bertanya. “Gimana sih caranya nulis asrama?!” He…he…he… kosa kata asrama itu kami pelajari pada semester pertama nah sekarang semester enam dah pasti lupa la yao! Anehnya satu kelas tidak tahu cara menulis huruf tersebut. Terkecuali teman saya Mukti “Kamus” Anka Prima yang memang hobinya baca kamus. Pada waktu teman-teman baca novelnya Lupus (zaman kita karyanya Hilman mang lagi ngetop), nah Anka ini bacanya kamus aja. Sekarang di Aceh masih baca kamus gak tuh anak ya? (tolong kontakin dia dong, nomor hp-nya doi hilang seiring kujualnya hp-ku, penyakit jual barang koq masih dipelihara ya he…he…he…).

Memang sih akhirnya kita ingat setelah diberitahu ciri-ciri hurufnya. Memang ini adalah salah satu hal positif dari belajar bahasa China atau Mandarin. Meskipun kita mau nyontek tetapi kalau kita tidak pernah belajar niscaya tidak akan pernah tahu. Tetapi mau nyontek tapi dikasih tahu ujungnya aja pasti kita segera mengingatnya kembali. Sebab hurufnya benar-benar harus kita hafal, jadi kalau lupa-lupa sedikit para dosen pada umumnya masih maklum. Lha wong waktu saya sekolah di RRC aja dosennya lihat kamus koq lantaran dia jarang menulis huruf itu. Membuat kami semua tertawa, tapi memang sih ternyata orang China di sana pun belum tentu bisa baca semua huruf Hanzi. Jadi mereka pun masih butuh kamus untuk membaca koran dsb. (nitya)

Read Full Post »

Nyontek 1

Minggu-minggu awal sebagai mahasiswa merupakan suatu hal yang sangat sulit untuk saya pribadi (tau dech temen-temen ngerasa sulit gak?). Karena harus menyesuaikan gaya mengajar dosen yang kadang cepat gak ketulungan. Terus antara kuping harus seirama dengan kecepatan tangan kita menulis. Dan boleh dikatakan kebiasaan waktu di SMA masih terbawa, yang cuma mengandalkan CBSA (Catat Buku Sampai Habis bukannya Cara Belajar Siswa Aktif). Nah cara belajar kayak gitu yang masih aku terapkan pada minggu-minggu awal kuliah. Termasuk belajar kalau pas ada ulangan aja.
Waktunya (pasti) lupa, mata pelajaran Tata Bahasa, Dosennya Ibu Anita Luhay Amran (nama ini dah dikoreksi oleh Simon). Pada waktu itu beliau ngasih quiz (tes dadakan). Asli! Saya malamnya gak belajar sama sekali. Beliau cuma bilang keluarkan kertas selembar, dan tulis Hanzi yang saya sebutkan. Alamakjan… mampus gue! Batin saya. Ketika quiz berjalan mulailah mulailah saya menggerakkan kepala (dongchang xiwang istilah ini dipopulerkan oleh Dosen kita Bapak Wiyanto Yong, kalau melihat mahasiswanya tengak tengok waktu ujian). Tapi sedetik kemudian saya lebih terkejut lagi karena ternyata tidak ada satu pun teman-teman saya yang tolah-toleh alias dongchang xiwang. Mati gue! Berarti Cuma gue doang di kelas yang semalam gak belajar. Akhirnya saya menyerah kepada nasib, biarlah dapat berapa nilainya (semua terserah padamu aku begini adanya, kuhormati keputusanmu… ini persis kayak lagunya Broeri Pesolima).
Selesai ujian saya tanya teman-teman.
“Bisa gak?”
Jawaban mereka mengejutkan saya, “Gak! Semalam gue gak belajar.”
“Kenapa tadi gak…”
“Nyontek! Itu masa lalu Nit! Sekarang kita dah kuliah! Malu!”
Sumpah kata-kata itu keluar dari mulut teman saya! Dan semenjak itu saya bersumpah juga pada diri sendiri untuk mengubah pola belajar, dan gak mau nyontek. Malu sama teman-teman. Kita kan mencari pengetahuan bukan mencari nilai!
Semenjak itu saya setiap sekolah apa aja gak pernah mau nyontek dan itu pula yang saya terapkan pada para siswa saya untuk jangan pernah menyontek. (nitya)

Read Full Post »

Bolos Berjamaah

Pernah bolos kan? Yang pernah sekolah, kuliah, atau kerja pasti kenal dengan istilah bolos. Pengertian bolos adalah suatu perbuatan mangkir, melarikan diri dari aktifitas sekolah, kuliah, kerja. Sehingga merugikan diri sendiri, mengecewakan orang tua kita yang telah membiayai kita sekolah sampai tinggi. Mengecewakan keluarga karena uang makan dan uang transport dipotong dari kantor. (Sumpah! Gue ngarang-ngarang pengertian ini, jadi jangan dicatat apalagi jadi semacam acuan untuk membuat  karya ilmiah).

Nah, anak-anak China 86 secara tidak sengaja pernah mangkir alias bolos alias madol secara berjamaah alias ramai-ramai. Padahal kita sehari sebelumnya sama sekali gak janjian untuk gak masuk kuliah, dan juga gak ada maksud kabur dari dosen tertentu. Waktu, mata kuliah serta tanggal kejadian saya lupa. Tapi dosen yang mengajar masih ingat banget, ibu Lily Sagita. Padahal dosen yang satu ini baik hati banget dan tidak sombong sampai sekarang. Betul kan bu? Apa kabar kak Lily? Long time no see. 很久不见 (sorry guys, gue manggil ibu yang satu ini jadi kakak, karena setelah keluar kuliah dosen kita ini sering jadi teman ngajar gue)

Hari itu ada team aerobtik Blue Angels dari Angkatan Lautnya Amerika melakukan aerobatik di Halim Perdanakusuma. Saya membelokkan arah tujuan dari semula ke Depok menjadi ke Halim. Sesampainya di sana saya melihat kemampuan team aerobatik yang memang spektakuler. Berbagai manuver mereka sajikan sehingga membuat kagum crowd di sana. Dengan hati puas saya pulang dari Halim pas banget dengan waktunya orang-orang pulang kuliah.

Keesokkan harinya, di kampus saya mau menyombongkan diri kalau kemarin lihat team aerobatik, eh ternyata wajah teman-teman pada tegang semua. Usut punya usut ternyata kemarin yang datang kuliah cuma tiga orang, dari tiga puluhan orang mahasiswa (mohon maaf apabila terdapat kesalahan penulisan jumlah mahasiswa, gue kan pelupa). “bu Lily marah!” Kata salah satu dari temanku yang masuk. Alamakjan…koq bisa ya kita pada gak masuk di saat yang bersamaan, tanpa janjian pula! Sampai sekarang misteri itu tidak terungkap ke mana aja teman-teman yang lain pada saat itu, karena gak ada yang berani mengungkap misteri itu. Baru sekarang saja saya mau ngaku, karena pada waktu itu alasan apa pun tidak akan didengar oleh dosen kita, bolos ya bolos, katanya.

Padahal peristiwa bolos tadi bukan yang pertama bagi saya. Ketika kampus masih di Rawamangun kita-kita (saya, Firman yang juga M.A. alias Minang Asli, yang biasa kami panggil si Ewen, Noenk anak Depok yang jadi soulmate-nya Uda Helmy karena tinggalnya di sana juga dan beberapa orang teman yang identitasnya minta disamarkan, takut menjadi image buruk bagi anak-anaknya, kata mereka) malah sering bolos. Pada saat itu kami sering bolos satu mata kuliah dan lari nonton film di daerah pertokoan Sunan Giri Rawamangun. Di situ ada satu bioskop entah sekarang masih ada atau tidak? Nah di bioskop itulah kita-kita sering bolos atau nunggu mata kuliah mulai karena ada mata kuliah yang bolong di tengah. Tapi belum pernah ada kejadian bolos berjamaah kayak peristiwa yang baru saya sampaikan di atas. Anak-anak  China 86 mang gak ada duanya, Kompak sampai hal bolos, he…he…he… (nitya)    

Read Full Post »

Sate Pak Tohir

Kalau kita berjalan dari arah Pasar Minggu menuju Pancoran, Jakarta Selatan. Setelah Carrefour, di sekitar kompleks Garuda ada Masjid, nah di depan Masjid itu ada tukang sate, namanya Pak Tohir. Jadi nama warungnya ya Sate Pak Tohir. Yang istimewa dari sate pak Tohir ini adalah telur muda yang ada pada setiap tusukan sate ayamnya. Pokoke Pak Tohir gak ada duanya deh.  Eit, tunggu dulu! Pak Tohir ini beda dengan Warung Gudeg Pakde Gon di Cileungsi atau pun Nasi Goreng TQ. Kalau Pakde Gon alias Amir alias Aming alias Gondrong (saking gondrongnya dia pernah disangka tukang kerupuk oleh almarhum bokap gue) dan TQ alias Dyah Sari Suteki, mereka adalah anak-anak Diploma III China. Maka Pak Tohir ini sama sekali bukan teman kita (sumpah! Boleh tanya Simon, dedengkotnya Ikadici yang hafal nama anak-anak dari angkatan pertama sampai yang masih kuliah).

Terus apa hebatnya Pak Tohir ini sampai bisa masuk weblognya Ikadici? Apalagi dia gak ada hubungan sama sekali dengan Ikadici. Memang dengan Ikadici sih gak ada cuma dia itu ada jasanya juga untuk kita-kita (Saya, Simon, Heru, Anka, Herlan, Yossi). Setidaknya banyak sudah potongan satenya yang naknan (uenak tenan) itu masuk ke perut kita. Hal ini terjadi karena kita-kita (tadi dah disebut siapa aja) sering banget tidur di rumah Yossi yang selalu dipanggil secara lengkap oleh Ibu Poedji Rahayu Soegiri yang dulu rumahnya di belakang STAN, dengan panggilan Endoyoso. Nah Yossi inilah yang sering beliin kita-kita sate Pak Tohir untuk makan malam dan makan pagi (kalo masih ada sisa malam tentunya,dan cuma Anka yang paling doyan sarapan pake sate, ditemani saya Simon, Heru, Herlan, dan Yossi). Dasar mahasiswa!

 

Nah siangnya kita-kita kuliah berangkat bareng pakai mobil landrover Yossi. Lagi-lagi nunut. Tapi hal ini kita lakukan setelah kampus kita digusur ke Depok. Sebelumnya kampus kita kan di Rawamangun, bersebelahan dengan IKIP Jakarta (sekarang UNJ). Waktu di Rawamangun kita pada naik buskota dengan harapan banyak kenalan sama cewek manis. Kayak Uda Helmy yang godain cewek tapi ternyata malah dosen sendiri.

 

Sampai sekarang Warung Sate Pak Tohir masih berdiri, tapi Yossi belum pernah lagi ngundang kita-kita makan di sate Tohir (dasar mental kere! Maunya ditraktir, he..he..he..). Mudah-mudahan Yossi setelah membaca tulisan ini tergerak hatinya dan langsung mengajak para Kurawa ini makan di Warung Sate Pak Tohir lagi. Karena dia itu teman yang dermawan. Untuk teman-teman yang mau merasakan kelezatan Sate Pak Tohir tolong paksa Yossi untuk membaca tulisan di weblog ini. Dan jangan lupa bersama-sama kita bujuk dia untuk traktir kita makan sate di sana. Yossi “Endhuk” Endoyoso, where a u my man?  (nitya ”yup-yup” pramudita)   

Catatan : nama, tempat, waktu dan peristiwa telah kami samarkan untuk melindungi jati diri pelaku sebenarnya agar dia tidak malu untuk mengundang kita makan sate. 

Read Full Post »

Tidak ada satu pun dari kami akan mendapat kejutan mendadak dari dosen mata kuliah Pancasila. Hari itu hari pertama mata kuliah Pancasila, biasalah anak-anak yang baru saja melepas seragam Corps Abu-Abu SMA nya agak sedikit “belajar” kritis. Sehingga terkesan di dalam kelas kami seolah belajar menjadi orator ulung yang mengkritik pemerintah.

Tapi sang dosen (maaf bu, saya lupa nama ibu) MKDU dengan sabar mengajar kami dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Diakhir kuliah tiba-tiba sang dosen memerintahkan kami untuk mengeluarkan selembar kertas. Setelah semua mahasiswa dan mahasiswi juga tentunya siap, ibu dosen hanya memerintahkan satu hal. “Tolong tuliskan Pancasila beserta lambangnya!”

Sebagian dari kami cuma bisa nyengir, karena memang banar-benar gak tahu! Lucu juga rasanya kita melupakan Pancasila padahal, dulu setiap jam 19.30 selalu ada lagu Garuda Pancasila di TVRI (maklum djaman doeloe stasiun TV nya cuma itu doang). Koq bisa ya? Apalagi sekarang lagu tersebut sudah jarang kita dengar di stasiun TV mana pun. Apa anak-anak sekarang hafal ya? Setelah peristiwa memalukan tersebut, teman-teman langsung menghapal Pancasila beserta lambangnya. Tapi tes seperti itu tidak ada lagi sampai mata kuliah selesai. (nitya)

Read Full Post »

Dosenku…

Sore itu, bus kota jurusan Rawamangun – Blok M agak kosong, beberapa mahasiswa dari kalangan proletar dan beberapa dosen muda yang pada waktu itu belum bawa mobil sendiri langsung melompat naik ke dalam bus kota tersebut. Diantara mahasiswa itu ada mahasiswa baru (aku dan kawan-kawan memanggil dia Uda Helmy, karena memang dia M.A. alias Minang Asli, tapi bahasa Jawanya medok banget maklumlah abang kita yang satu ini lama pula bercokol di Yogya). Di dalam bus mulailah uda kita ini menyebarkan pandangan ke seluruh bus. Matanya menangkap sosok cantik, tengah duduk dengan tenang di dalam bus. Uda Helmy dengan yakin mendekatinya dan memulai rayuan mautnya. “Anak UI ya dik?” sapanya membuka percakapan. “Iya,” jawab cewek itu singkat. “Saya juga anak UI,” Uda mulai menyombongkan diri juga, dan dia memulai menjalin percakapan.

Hari Senin (kalo aku gak salah) adalah pelajaran pertama untuk kami sebagai mahasiswa baru, pelajaran hari itu Penulisan Hanzi. Sebagian besar dari kami antusias mengetahui pelajaran pertama ini. Dan ternyata kami pun mengetahui bahwa yang mengajar kami penulisan adalah Ibu Assah Kabul (mohon maaf apabila terdapat kesalahan penulisan nama dan gelar), dosen yang satu ini sangat cantik. Dan kami para mahasiswa menjadi semakin antusias, tapi mahasiswinya tidak karena merasa kalah saingan.

Aku memperhatikan suasana di dalam kelas semua sangat semangat, mempelajari Hanzi. Tetapi hanya satu mahasiswa yang gelisah sejak tadi, yaitu Uda Helmy. Begitu pelajaran usai aku bertanya, “Ada apa Da? Kelihatannya nggak semangat belajar?” “Mati aku Nit! Cewek yang aku goda kemarin di bus itu ternyata Ibu Assah, dosen kita.” Gerrr…. teman-teman tertawa mendengar ceritanya. Ibu Assah memang terlihat cute bgt pada waktu itu, sekarang juga masih kali ya? Pantas Uda kita yang satu ini tidak tenang selama pelajaran. Bahkan Ibu Assah sempat mengenalinya waktu di dalam kelas. Uda Helmy where are you Da? (nitya) http://nityapramudita.wordpress.com

Read Full Post »

« Newer Posts