Feeds:
Posts
Comments

Untuk Rekan-Rekan yang pernah kuliah di D III FSUI (FIB-UI) Angkatan 1983 sampai 2007 (baik yang sampai selesai maupun yang belum sempat menyelesaikan kuliah di sana) bahwa pada Bulan Juli 2009 akan diadakan REUNI AKBAR DIPLOMA III FSUI (FIB-UI) SEMUA JURUSAN, so Rekan-Rekan mulai dari sekarang tolong diberitahukan kepada Rekan-Rekan lainnya yang mungkin Anda kenal tapi belum tahu tentang pemberitahuan ini. Dan rencananya pada tanggal 21 Februari 2009 akan diadakan rapat lagi  di kampus FSUI (FIB-UI) Depok sekitar jam 11.00. Kita bisa kumpul di kantornya Chaping (Prancis ’90). Pada rapat perdana yang diadakan pada Jumat malam 29 Januari 2009 bertempat di kantor bapak Ari Ambardi (Arsip ‘84) telah hadir beberapa orang antara lain Redia F.R. (Arsip ‘89), Agnes, Sony Gede (China ‘88), Nitya (China ‘86) Barron (Belanda ‘88), Bani Ramadhan (Jerman ‘85), Chaping (Prancis ‘90) Prio Santoso, (Arsip ‘86), Ari Ambardi (Arsip ‘84), Senoadji (Arsip ‘89). Rencana reuni akbar ini juga untuk temu kangen sebelum DIPLOMA III FSUI (FIB-UI) dibubarkan tahun depan. Mudah-mudahan Rekan-Rekan pro aktif dengan rencana ini sehingga acara ini dapat terselenggara dengan lancar. Trims guys.

Advertisements

New Year

chinese-new-year

Mengucapkan Selamat Imlek 2560, Gongxi Facai, Xinnian Kuaile, Xiwang Dajia Niannian Youyu, Shenti Jiankang, Wanshi Ruyi, Xinxiang Shicheng. bu yao wangji hongbao-nya aku tunggu….

Kami Admin Ikadici Weblog turut berduka cita atas meninggalnya Ayahanda rekan kami tercinta Henny Catur, yang meninggal pada Hari Minggu Tanggal 07 Desember 2008 Pukul 00.30 di Gombong Jawa Tengah. Semoga arwah almarhum diterima di sisiNya, dan diampuni segala dosanya. Dan semoga Henny Catur dan keluarga sepeninggal almarhum selalu diberi kekuatan serta bimbingan Allah Swt. Amin

IDUL FITRI 1249 H

Mumpung masih bulan Syawal 1429 H nih, pengelola Weblog Ikadici mau Mohon Maaf Lahir dan Batin. Karena dari menjelang Idul Fitri sampai lewat duapuluh hari baru bisa on air lagi. Hal ini disebabkan karena kesibukan saya pribadi yang baru saja melaksanakan mutasi (bukan berubah jadi mutant lho! Melainkan pindah tempat kerja). Sekarang saya berkantor di Jakarta (dulu kan di pinggiran Jakarta) tepatnya di Jalan Salemba, jadi kita deketan kalo mau janjian Mon, Q! Mudah-mudahan kita semua mendapatkan pahala yang setimpal sesuai amal ibadah kita di bulan Ramadhan, amin. Saat Idul Fitri kali ini ternyata memang langsung disambut dengan kegiatan yang super padat oleh kita semua, terbukti gak ada undangan halal bihalal tuh. Gak papa deh yang penting kita semua sudah pada ikhlas memaafkan satu sama lain. Lagi pula mungkin aja Simon dah ngajak ketemuan untuk halal bihalal tapi gak ada sambutan balik dari saya makanya dia bosan. Sori banget bro! Setelah Idul Fitri hape gue raib! Jadi kehilangan kontak dengan kalian semua guys! So tolong dong sms gue dan kasih nama kalian agar bisa gue rekam di hape (hape milik anak gue, gue pinjam dulu sama Galuh anak gue karena kan belum gajian untuk beli hape baru) untuk nomor teleponnya Alhamdulillah masih sama setelah gue menghubungi pihak telkomsel dikasih nomor yang dulu juga. So please sms-in nomor kalian ke hape gue. Sekali lagi kami mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H mohon maaf lahir dan batin, Pakde Gon ngundang kita gak Q? Mbok ya dicalling gitu, siapa tahu sudah tersedia gudeg lengkap untuk kita kunyah bersama dalam rangka halal bihalal.

Puasa di Kampung Orang

Bulan Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nantikan oleh jutaan umat muslim di seluruh dunia. Bila Ramadhan datang maka suasana bulan tersebut menjadi sangat teduh di hati. Demikian juga yang pernah saya rasakan ketika saya harus berpuasa di negeri orang, China pada tahun 1999 lalu. Beberapa hari sebelum Ramadhan saya mengajak teman-teman saya dari Bangladesh, Tajikistan, Kirgizstan untuk mengunjungi sebuah masjid (kalau di sini mungkin dibilang Musholla karena kecil) di kota tempat saya belajar Luoyang Propinsi Henan, guna mencari informasi tanggal 1 Ramadhan serta meminta jadwal waktu imsak, berbuka puasa setiap harinya. Kebetulan Ramadhan pada tahun itu jatuh pada bulan Desember dan merupakan musim dingin. Alhamdullillah, kami diterima oleh Ahong masjid dan mereka menyambut kami dengan baik, setelah sholat kami pun kembali ke kampus.
Sesampainya di kampus kami menghadap Kepala Sekolah dan menjelaskan tentang rencana ibadah kami di bulan Ramadhan. Ternyata Kepala Sekolah tidak keberatan dengan rencana kami tersebut dan akan membantu kami untuk menyiapkan makan sahur (padahal kami sudah menolak agar jangan merepotkan pihak kampus ternyata mereka tetap akan menyiapkan, hiks hati kami terenyuh juga padahal mereka kan komunis ya?). Dan begitu memulai Ramadhan kami pun mulai sahur. Inilah yang terberat. Bagaimana tidak berat, kami harus bangun pagi-pagi sekali menahan udara dingin (terkadang mencapai -10˚ C) untuk pergi ke ruang makan diluar asrama (memang sih asrama dan ruang makan hanya berjarak sekitar 10 m, tapi udara dingin itulah yang sangat berat untuk kami. Ritual memakai lima lapis baju plus jaket menjadi hal yang merepotkan daripada sahurnya itu sendiri. Dan kebetulan hanya enam orang muslim yang berpuasa (sebetulnya ada beberapa muslim dari negara lain tapi mereka menganggap bahwa puasa itu tidak wajib) dan setiap pagi sudah sampai di ruang makan ditemani koki yang kembali tertidur di meja makan. Kalau melihat jam maka terlihat pukul 05.00 waktu setempat tapi langit masih sangat gelap. Karenanya imsak di sana pukul 05.45 (hampir jam enam pagi). Subuh pukul 06.00 pagi.
Hal terberat lainnya adalah menahan kantuk di dalam kelas, saya sering ketahuan teman-teman tengah menahan kantuk sehingga saya punya trik untuk tidak tertidur di kelas yaitu bertanya ke dosen. Jadi setiap saya bertanya pada dosen, teman-teman pasti tertawa karena mereka tahu pada saat itulah saya sebetulnya sedang mengantuk dan mengalihkannya dengan bertanya. Bagi teman-teman dari negara lain banyak yang bertanya mengenai masalah puasa ini, saya pun menjelaskan kepada mereka tentang ajaran agama Islam yang mewajibkan umatnya untuk berpuasa. Bahkan Maurius teman saya dari Polandia merasa kehilangan teman setiap makan siang karenanya dia pun ingin ikutan berpuasa. Karena kami yang biasa makan siang semeja dengannya semua melaksanakan ibadah puasa.
Hal yang menyenangkan adalah saat berbuka puasa. Pada saat musim dingin berpuasa di China sangat menyenangkan karena siang di sana berlangsung sangat singkat, pukul 16.00 kami sudah berbuka puasa. Kabarnya pada saat musim panas justru sangat lama (Herlan pernah tuh puasa di Beijing saat musim panas) buka puasa bisa sampai jam 20.00 lewat.
Sampailah saatnya Idul Fitri. Malamnya saya mohon ke Kepala Sekolah agar kami dipinjami kendaraan untuk bisa pergi ke Masjid agar bisa melaksanakan sholat Ied. Pagi itu adalah udara terdingin yang pernah saya rasakan (suhu saat itu mencapai -36˚C). Kami tidak kuat berlama-lama di udara terbuka, seluruh badan terasa teriris-iris (karena dinginnya). Sesampainya di masjid kami mulai curiga mengapa masjid koq tampak sepi sekali. Kami masuk ke dalam dan disambut Ahong (pemuka) masjid dan kami menanyakan tentang sholat Ied, dia dengan enteng menjawab bahwa hari ini hari Sabtu banyak orang yang bekerja jadi sholatnya besok saja pada hari minggu (alamak! Koq bisa sholat Ied digeser hanya lantaran sebagian umatnya tidak libur). Kami kecewa tapi akhirnya kami diajak keliling masjid dan mendapat penjelasan tentang situasi masjid tersebut sambil diperlihatkan Al Quran dengan terjemahan huruf China. Akhirnya kami pun kembali ke asrama.
Sesampainya di asrama Amir, Harun, Radzaq (teman-teman saya dari Bangladesh) mengundang kami ke ruangannya untuk menikmati hidangan a la Bangladesh buatan istri-istri mereka. Dan saya baru pertama kali makan masakan termanis di dunia yang pernah saya rasakan (sampai mual rasanya).
Tidak hanya di China di Indonesia pun suasana Ramadhan selalu kita rindukan. (nitya)

Bintang dari Menteng

Bagi anak-anak tahun 85, 86, 87, 88 tidak ada yang tidak mengenal kak Dame. Kakak cantik yang satu ini berasal dari Medan. Nama lengkapnya Nazly Pardamean. Hampir sesuai namanya kakak yang satu ini sangat cinta damai dan selalu menghindari konflik, baik konflik horinzontal maupun vertikal (maksudnya sesama mahasiswa maupun terhadap dosen). Kak Dame lah yang selalu menjadi mediator sesama kami kalau timbul masalah dan dia pulalah yang maju kalau kami bermasalah dengan para Dosen. Meskipun dia salah satu yang senior (selain mbak Rida –yang selalu tampil cantik and modis– ada juga jie Inggrid –yang selalu menjadi penyandang dana kalau kami jalan– ada juga mas Suryadi) kak Dame selalu tampil menyesuaikan diri dengan kami semua, padahal waktu itu dia sudah dikaruniai satu orang anak.
Kak Dame selalu tampil di tengah kami kalau kami ada masalah meskipun terkadang dia pun bingung mengatasi masalah kami. Maklumlah urusan kita kan remeh temeh. Kalau sudah sampai pelajaran bu Poedji dia paling sibuk mempersiapkan pelajaran agar jangan sampai dimarahi tapi sementara kami senang mendengar omelan bu Poedji (itung-itung bentuk pelatihan dimarahi boss kalau kerja nanti), itulah bedanya kalau anak muda kuliah sama orang tua (yang berjiwa muda) kuliah.
Pada bulan Ramadhan seperti sekarang ini saya selalu ingat kak Dame karena dia selalu mengundang kami untuk buka puasa bersama di rumahnya yang besar di bilangan Menteng Jakarta Pusat. Selesai buka puasa dilanjutkan dengan sholat berjamaah (duh, kangen euy sama suasana buka puasa bareng kalian guys). Seingat saya selain di Menteng, kak Dame juga pernah mengundang kami berbuka puasa di rumahnya di bilangan Tebet. Kami masih menunggu konfirmasi siapa yang kali ini berani mengundang buka puasa bersama? Le, balik dari Taiwan kapan? Jangan pas lebaran, jadi kita bisa buka puasa pakai NT sisa. Dan mudah-mudahan kak Dame membaca tulisan ini dan tergerak hatinya untuk mengumpulkan adik-adiknya yang bandel-bandel (kalau bandel sih kayaknya sampai sekarang masih!) untuk berbuka puasa pakai gudegnya pakde Gon, sate pak Tohir sama nasi goreng TQ, dia siap bikin koq, iya kan Q? (nitya)

No Pain No Gain

 

Waktu tahun tahun pertama anak-anak angkatan 86 dibagi menjadi dua kelas. Saya ada di kelas B, bersama dengan Pakde Gon, TQ, Anka, Heru, Riska, dll. Di kelas A, ada Simon Yossi, Ave, Yanti, Ayo dll. Untuk beberapa mata pelajaran harus diakui anak-anak kelas A jauh unggul di atas anak-anak B. Ini terbukti dari omelan dosen ternyata lebih banyak ada di kelas B. Pernah suatu ketika kami semua entah tulalit berjamaah atau memang oon bersama sampai dimarahi habis-habisan oleh dosen MK Tata Bahasa (Yth Ibu Anita), kebetulan beliau waktu itu sedang hamil anak ke dua. Jadi sudah bisa dipastikan emosinya sangat tinggi pada waktu itu, karena kaminya juga sih yang pada gak mudeng-mudeng alias gak ngerti-ngerti pelajaran Tata Bahasa. Marahlah beliau, bahkan disela-sela marahnya beliau sempat pesan es campur sama OOM Idris (OOM maksudnya Office Old Man bukan Office Boy (karena doi mang dah tua) FSUI pada saat itu). Duh dengan tenangnya beliau makan es di siang yang panas, rasanya mak nyeesss!

Gak ada mahasiswa yang protes karena kami semua mengaku salah (tepatnya ngaku bloon banget waktu itu, sekarang sih dah pinter semua), di samping itu kami semua berpikir bahwa itu kan bawaan bayi, orang hamil ngidam makan es campur kan boleh.

Memang semua berawal dari situ, selanjutnya entah karena kesepakatan bersama kami semua berjanji untuk belajar dengan lebih keras dan harus bisa bersaing dengan kelas A. Semua langkah kami tempuh termasuk minta bantuan pak Adrianus (dulu masih cute, dan sering digodain anak-anak cewek, tau deh sekarang?).

Alhasil kami semua mampu mengejar ketertinggalan kami. Dengan giat kami membabat habis semua PR yang diberikan oleh ibu Anita. Bahkan untuk maju ke papan tulis saja kami harus membuat waiting list, karena besarnya animo teman-teman untuk maju ke depan. Dan ibu Anita sangat senang melihat perubahan suasana kelas yang semangat. Ternyata, berikutnya malah kelas A yang kena semprot oleh ibu Anita lantaran tidak segarang anak-anak B dalam mengerjakan tugas di papan tulis. Ternyata usaha keras kami berhasil juga. Oh iya asisten ibu Anita yang tidak resmi pada pelajaran Tata Bahasa terutama penguraian ya Pakde Gon, dia itu jagoannya penguraian kalimat bahasa Mandarin.